Soal Uts Sejarah Dakwah dan Jawabannya


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ...............
SOAL UJIAN MIDTERM SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2017/2018
MATA KULIAH      : SEJARAH DAKWAH
KODE/SKS               : DAK.2007/3 SKS
UNIT                          : -
DOSEN                      :
NAMA                       :
NIRM                         :  


Jelaskan hal-hal berikut!
1.    Sejarah perkembangan dakwah islam pada masa Bani Ummayah, termasuk era spanyol!
Penjelasan: Bersamaan dengan meninggalnya khalifah Ali bin Abu Thalib maka hilang sudah sistem pemerintahan khalifah yang bersifat demokratis. Bentuk pemerintahan berganti menjadi dinasti (kerajaan). Sejak dulu Mu’awwiyah sangat berambisi untuk duduk di kursi kekuasaan. Oleh karena itu, ia melakukan segala cara, dengan siasat dan tipu muslihat yang licik. Kedudukannya sebagai khalifah tidak berdasarkan musyawarah dan kesepakatan kaum muslimin.
Selama dinasti ini berkuasa, banyak kemajuan yang dicapai, khususnya dalam bidang penaklukan daerah danperluasan wilayah.  Untuk perluasan wilayah barat dikirimlah putranya sendiri, yazid bin Mu’awwiyah ke daerah Byzantium, sedangkan ke wilayah Timur dikirim panglima Muhallab bin Abi Sufrah. Selain itu, masih banyak panglima-panglima lain yang ditugaskan oleh muawiyyah untuk mengadakan perluasan ke wilayah Afrika.
Selama kekuasaan dinasti bani umayyah, terdapat banyak perkembangan dan kemajuan yang dialami umat islam. Daerah kekuasaan semakin luas dan persoalan pemerintahan dan persoalan hidup pun semakin kompleks. Muawiyyah sangat berambisi untuk menakhlukkan Bizantium dengan symbol kekuatannya terdapat di kota konstatinopel. Ada tiga hal yang mendorong muawiyyah malakukan hal tersebut, yaitu sebagai berikut
a)    Byzantium merupakan basis kekuatan Kristen ortodoks yang di anggap akan berbahaya bagi perkembangan islam.
b)   Orang-orang bizantium suka mengadakan penyerangan terhadap kaum muslimin.
c)    Bizantium memiliki kekayaan yang amat melimpah ruah.
Di laut Tengah armada laut Islam berhadapan dengan armda Byzantium. Dalam suatu baku tembak diperairan Lychia pasukan Islam berhasil menghancurkan armada Byzantium. Didaratan Afrikan Utara pasukan Islam yang telah berhasil menduduki Mesir di zaman Umar, dilanjutkan terus ole Khalifah Al-Walid (705-715 M) dari Bani Umayah. Dibawah Amir Maghribi, Musa berhasil menaklukan kota lama Kartago, untuk seterusnya memasuki daerah suku-suku bangsa Berber di Maghribi.
Setelah menguasai Afrika Utara pada tahun 710 M Amir Musa memerintahkan Thariq bin  Zihad untuk menyeberang ke Tanjung Iberia didaratan Spanyol sebelah barat. Begitu seluruh pasukan mendarat didaratan Iberia Spanyol Thariq membakar semu perahu yang telah menyeberangkan mereka ke tujuan. Tindakan itu dimaksudkan agar tidak ada pilihan bagi pasukan Islam, kecuali maju untuk menyongsong hari baru, yaitu kemenangan.
Pada tahun 717-718 M operasi dilanjutkan dengan kepemimpinan Al-Hurr bin Abdul Rahman Al-Tsagafi, sebagai pengganti ketiga dari Amir Musa. Gerakan itu menuju Spanyol Utara setslah menaklukan Saragosa. Langkah-langkah perluasan aderah itu terjadi di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M).
Peta kekhalifahan Umayah meliputi kawasan yang amat luas. Disebelah barat berbatasan dengan Teluk Biskaye di Eropa dan Maghribi di Afrika Utara. Disebelah timur berbatasan dengan Danau Aral, batas Tiongkok dan Lemabah Indus di India. Belum lagi dikawasan seluruh jazirah Arab.
Sepanjang sejarah, dinasti bani umayyah telah banyak memberikan andil besar terhadap perkembangan dan kemajuan peradaban islam. Ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan baik, begitu pula kebudayaannya. Di antara kebudayaan  islam yang berkembang pada masa itu, antara lain seni sastra, seni ukir, seni suara,seni arsitektur, dan sebagainya. Pada masa ini telah banyak didirikan bangunan-bangunan yang megah dan indah, seperti masjid-masjid, rumah-rumah, perkantoran, istana para raja.
2. Keadaan budaya masyarakat di sekitar wilayah kekuasaan Bani Umayyah
Ketika bani umayyah berkuasa, tapal batas negara yang dapat memisahkan antara negara islam dan kafir segera dibuat, sehingga jelaskan batas-batas wilayah kekuasaan mereka. Masuknya kekuataan islam ke berbagai wilayah yang ditaklukkannya, sangat berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakatnya, sebab islam tidak mematikan kreatifitas masyarakat, bahkan sebaliknya. Islam mendorong umatnya untuk senantiasa mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, sepanjang segala upaya kreatif itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam.
3. Kemajuan-kemajuan yang dicapai Bani Umayyah
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah tepatnya pada masa kekuasaan Abdul Malik ibn Marwan, banyak terjadi perubahan dan perkembangan, baik dibidang kenegaraan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan bidang-bidang lainnya. Seperti kenegaraan, dibentuk organisasi-organisasi yang diatur secara rapi. Organisasi-organisasi kenegaraan tersebut meliputi :
a.    An-Nizham Asy-Siyasiy, yaitu organisasi politik yang diubah dari sistem demokrasi menjadi sistem monarki, terdiri atas Al-Kitabah (sekretaris) dan Al-Hijabah (pengawal khalifah).
b.    An-Nizham Al-Idariy, yaitu organisasi yang mengurus bidang tata usaha kenegaraan.
c.    An-Nizham Al-Maliy, yaitu organisasi yang mengurusi bidang keungan negara.
d.   An-Nizham Al-Harbiy, yaitu organisasi pertahanan dengan tugas mempertahankan negara atau wilayah dan mengadakan ekspansi daerah kekuasaan Islam.
e.    An-Nizham Al-Qadhiy, yaitu organisasi yang bergerak dibidang kehakiman dan pengadilan.
Munculnya istilah-istilah administrasi kenegaraan tersebut setelah mengalami perubahan bahasa dari bahasa Yunani dan Pahlawi menjadi bahasa Arab yang masuk Islam untuk menyempurnakan pengetahuan mereka tentang keislaman, dituntut untuk pandai berbahasa Arab.
Abdul Malik juga mengubah mata uang yang dipakai didaerah-daerah yang dikuasai Islam. Sebelumnya mata uang yang berlaku adalah mata uang Bizantium dan persia, seperti Denarius menjadi Dinar dan Diram atau Drachme menjadi Dirham.
Dibidang pembangunan, mesjid-mesjid pertama diluar semenanjung Arabia didirikan. Katedral St. John di Damaskus diubah menjadi masjid. Di Al-Qudsi (Jerusalem), Abdul Malik membangun masjid Al-Aqsha dan monumen terbaik yang bernama Qubbah As-Sakhr (Dome of the Rock).
Sepanjang perjalanan kekuasaannya, dinasti Umayyah telah banyak membuat kemajuan dalam berbagaibidang. Pembangunan berjalan pesat, baik dalam segi dakwah maupun pembangunan material. Diantara kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa itu antara lain:
1.    Prestasi-prestasi Besar
· Bidang administrator pemerintahan
Prestasi pertama yang diperoleh bani umayah terdapat dalam bidang demokrasi pemerintahan. Tradisi melakuakn pencacahan jiwa penduduk dan system pengiriman surat meyurat yang teratur. Sistem perpajakan di organisasikan dengan sangat baik, karena merupakan sumberpendanaan paing besar dari kekhalifahan yang makin rumit.
· Perluasan Daerah
Ø Gerakan ke Timur
Kearah timur sampai ke sungai Ammu Darya dari sana gerakan mereka sampai kedaerah-daerah degan berbahasa Turki, dan bahasa Persia. Pada tahun 723 M pasukan muslim berhasil pula memasuki kawasan India.


Ø Gerakan ke utara
Gerakan keutara terutama dalam menundukkan konstantinopel ibu kota Romawi Timur.
Ø Gerakan ke Eropa
Di daratan Afrika Utara pasukan Islam yang telah berhasil menduduki Mesir di zaman Umar, dilanjutkan terus oleh Khalifah Al Walid dari bani Umayah. Di bawah Amir Maghribi, Musa berhasil menaklukan kota lama Kartago, untuk seterusnya memasuki daerah suku bangsa Berber di Maghribi. Kartago merupakan bekas kota indah di zaman Romawi dengan bangunan indah diperbukitan pantai Libia menghadap ke Laut Tengah.

· Kemajuan dibidang ilmu pengetahuan
Pada masa kekuasaan bani umayah, ilmu pengetahuan berkembang pesat, baik bersumber Al-Qur’an maupun yang bersumber dari akal manusia. Ilmu-ilmu yang berkembang itu diantaranya:
1.      Ilmu Tafsir Al-Qur’an
2.      Ilmu Hadits Aatau Ulumul Hadits
3.      Ilmu Qiraatil Qur’an
4.      Ilmu Tata Bahasa
5.      Ilmu Kimia yang berasal dari orang Yunani
6.      Ilmu kedokteran
7.      Ilmu seni, bauk arsitektur maupun yang lainnya
8.      Ilmu Sejarah
9.      Kemajuan dibidang pemerintahan
Dibidang pemerintahan, bani umayah telah membentuk berbagai lembaga Negara beserta peraturan perundangannya,seperti pencatatan korp pegawai pemerintah, pembentukan pemerintah pusat dan daerah yang tidak hanya smpai tingkat provinsi melainkan sampai kedistrik-distrik, pembentukan lembaga pengadilan lembaga pertahanan dan keamanan Negara.
· Kemajuan dibidang ekonomi
Dibidang ekonomi mereka menggalinya dari berbagai sector, seperti pertanian, perdagangan, dan industri. Karena itu, pemerintah mampu membiayai pembangunan gedung-gedung nan megah, pembangunan sarana dan prasarana untuk umum secara lengkap.
· Kemajuan dibidang dakwah
Dakwah umat islam tidak hanya berkembang di jazirah Arabia saja, mereka telah sampai ke Tiongkok, India, denua Afrika dan Eropa. Mereka berdakwah melalui berbagai jalur seperti jalur pendidikan, sosial budaya, dan dengan menulis buku-buku agama. Khalifah Umar bin Abdul Aziz membangun mesjid Nabawi menjadi lebih indah, megah, dan luas, berkat bantuan arsitek yang dikirim dari Romawi. Begitu pula Khalifah Walid bin Abul Malik sempat membangun mesjid Damaskus menjadi indah dan megah. Mesjid itu dibangunnya bersamaan dengan pembangunan kota Damaskus. Mesjid Agung Damaskus bukti kemegahan Dinasti Umayah.
· Kemajuan dibidang seni budaya
Berbagai bidang ilmu seni juga turut berkembang pada masa itu, seperti seni arsitektur, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya.
Era Spanyol
Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Wilayah Andalusia yang sekarang disebut dengan Spanyol diujung selatan benua Eropa, masuk kedalam kekuasaan dinasti bani Umayah semenjak Tariq bin Ziyad, bawahan Musa bin Nushair gubernur Qairuwan, mengalahkan pasukan Spanyol pimpinan Roderik Raja bangsa Gothia (92 H/ 711 M). Spanyol diduduki umat islam pada zaman kholifah Al-Walid (705-715), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus.
Perkembangan Islam di Spanyol berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Perkembangan itu dibagi menjadi enam periode yaitu: Periode Pertama (711-755 M), Periode Kedua (755-912 M), Periode Ketiga (912-1013 M), Periode Keempat (1013-1086 M), Periode Kelima (1086-1248 M), dan Periode Keenam (1248-1492 M).
Kemajuan peradaban itu dipengaruhi oleh kemajuan intelektual yang di dalamnya terdapat ilmu filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, begitu juga dengan bahasa dan sastra, dan kemegahan pembangunan fisik.
Faktor-faktor pendukung kemajuan Spanyol Islam, diantaranya kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir.
Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah dan adanya toleransi yang ditegakkan oleh penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi.
Kemunduran dan kehancuran Islam di Spanyol antara lain, konflik Islam dengan Kristen,tidak adanya Ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan keterpencilan.

2.    Sejarah dan metode dakwah islam di Asia Tenggara, proses Islamisasi awal
Penjelasan: Islam terus memutarkan roda penyebarannya, hingga ke seluruh penjuru dunia, hal ini mencakup pula wilayah RAS Melayu, yakni Asia Tenggara. Setelah Islam menyebar di daerah Timur Tengah dan mengekspansi kekuasan ke wilayah-wilayah, kini giliran Asia Tenggara yang siap disinggahi dan disebari dakwah syia’ar Islam (Badri Yatim: 2007,176). Asia Tenggara merupakan tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, dan Asia Tenggara mejadi wilayah perebutan negara-negara Eropa.

Kekuatan Eropa lebih awal menginjakan kaki dan mengibarkan kejayaan di negeri melayu ini, hal ini karena Kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah dibanding dengan kerajaan Timur Tengah, sehingga amat mudah untuk ditaklukan, hal ini tergambar dengan merajalelanya kaum bangsa Eropa yang menancapkan tongkat penjajahan. Asia Tenggara merupakan salah satu negeri Dunia Islam, adapun yang dimaksud dengan dunia Islam yakni negara-negara atau bangsa yang persentase penduduk muslimnya lebih dari 50 % dari keseluruhan jumlah penduduk.pertimbangan jumlah ini merupakan pertimbangan pertama dan terpenting, disamping itu pula ada pertimbangan-pertimbangan lain, seperti undang-undang negeri, atau kepala nagar negeri, pula kebudayaan negeri itu.
Akhir Abad ke-16 M, giliran Belanda, Inggris, Denmark, dan Perancis yang datang ke Asia Tenggara. Belanda datang pada tahun 1595 M dan segera dapat memonopoli perdagangan. Sebagaimana di India, di Asia Tenggara kekuasaan poltik negara-negara Eropa itu berlanjut terus sampai pertengahan abad ke-20 M, ketika negeri-negeri jajahan tersebut memerdekakan diri dari kekusaan asing.

·      Kondisi Perkembangan Islam Di Indonesia
Adapun perkembangan Islam di Indonesia, dicerminkan dengan banyak kerajaan kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri. Adapun awal masuknya yakni lewat jalur perdagangan dan dakwah yang dibawa dari timur tengah dan india lewat jalur Aceh.
Kondisinya bisa dikatakan lebih baik dari negeri-negeri Melayu lainnya, seiring dengan banyaknya didirikan kerajaan-kerajaan Islam, seiring pula datangnya para orang Eropa mencari rempah-remapah, hingga akhirnya membentuk VOC. Indonesia yang menjadi tanah tropis dengan jalur garis katulistiwa yang nian indah dan subur, ternyata mengundang minat dan perhatian perdagangan dunia termasuk Eropa.
Eropa masuk lewat portugis dengan tujuan awal untuk berdagang namun setelah lama tujuan mereka beralih untuk mengeruk kekayaan alam Nusantara. Disamping itu merekan pun menyebarakan pula agama Nasrani, hingga tersebarlah di Indonesia berbagai agama yakni Islam yang dibawa oleh timur tengah, Nasrani oleh Portugis, dan Hindu Budha yang pertama kali menginjakan kaki penyebarannya di Indonesia oleh India.
Sebelum Islam datang ke Indonesia sebelumnya telah lebih dahulu hadir, dan penyebaran yang dilakuakn yakni oleh orang India yang membawa dakawah agama Hindhu Budha. Maka sebenarnya, kerajaan yang berdiri pertama kali banyak dari kalangan basic Hindu Budha, namun setelah orang-orang Arab menginjaka kaki pertama kali di Nusantara dan sembari membawa syi’ar dakwah Islam, maka seiring itu bedirilah kerajaan-kerajaan Islam menyusul kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang telah lama berdiri.
·      Kondisi Perkembangan Islam Di Malaysi
Portugis mulai menjalin hubungan denagn Malaka lewat kedok ekonomi dan perdagangan, dan melalui kemenangan mereka dalam perang Dewa (915 H/ 1509 M). Mereka kemudian menguasai Malaka pada tahun 917 H/ 1511 M. Mereka telah berlaku sewenang-wenag di wilayah ini, pada tahun 1051 H/1641 M penjajahan ini terhenti, lalu dimulailah penjajahn Belanda.
Belanda mengawali aktifitasnya denagn mendirikan perserikatan dagang Hindia-Belanda. Melalui perserikatan ini Inggris memperoleh pasar dari Belanda, hingga akhirnya Belanda menghapuskan perserikatannya pada tahun 1215 H/ 1800 M. Kekuasaan Belanda di wilayah ini berakhir sejak tahun 1201 H/ 1795 M. Kemudian lewat perjanjian kesepakatan diantara mereka, diserahkanlah Melayu kepada Inggris, sedangakan Belanda mendapatkan kepulauan Indonesia. Setelah itu munculah revolusi didalam negeri menentang penjajahan ini. Pada pertengahan perang Dunia II, Jepang menguasai Melayu, setelah berakhirnya perang, Inggris kembali menjajah wilayah ini. Mereka tetap berkuasa hingga negeri ini memerdekakan diri pada tahun 1377 H/ 1957 M dengan nama Malysia.
Islam pada saat ini sulit untuk disebarakn, terlebih negeri ini sedang terguncang oleh dunia Eropa. Namun denagn gesit para penyiar dan kerajaan0kerjaan yang masih bertahan perlahan Islam tersebar dan berkembang di negeri ini, meskipun pada kenyataannya kondisi perkembangan Islam di Malysia tidak sebesar perkembangan di Indonesia.
3. Perkembangan dakwah islam di Indonesia pada masa orde baru dan tantangannya.
Penjelasan: Di masa pemerintahan Soeharto, atau era Orde Baru, secara logika politik, mestinya Partai Masyumi dan PSI yang jelas-jelas menjadi lawan dari penguasa Orde Lama itu, sudah semestinya mendapatkan haknya untuk direhabilitir. Apalagi jika melihat prinsip-prinsip Partai Masyumi, serta garis kejuangan para pemimpin umat yang memimpin partai Islam terbesar itu, sangat tegas menentang Komunis. Sementara, Pemerintahan Orde Baru yang hadir sesudah itu, seiring dengan dengan dibubarkannya partai komunis. Pemerintahan Orde Baru itu, juga disebut sebagai anti komunis. Maka semestinya, rehabilitasi partai Masyumi untuk kembali hidup seperti di zaman Orde Baru, tidak ada alasan untuk terhalangi.
Meskipun demikian, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Ironisnya, para pemimpin Masyumi masih tetap disingkirkan. Berbagai intimidasi, masih di arahkan kepada pemimpin umat Islam itu. Di antaranya, ketika terjadi ”Petisi 50”, yakni pernyataan keperihatinan oleh pemimpin umat kepada Presiden Soeharto atas pidatonya di Pekanbaru, telah dijadikan sebagai alat rekayasa pelumpuhan potensi politik umat Islam. Peristiwa politik itu, telah menumbuhkan dalam tubuh umat bibit kekecewaan dan kekesalan.
Namun, di antara umat dan pemimpin masih sanggup bertahan, karena masih tersisanya antitoxin di dalam urat nadi umat. Anti toxin itu adalah keyakinan hidup, wawasan Iman dan Islam, cinta­ akan persatuan bangsa, dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta anti komunis, yang tidak pernah kendor dalam hati umat Islam.Memang ada, sebaagian umat menghadapinya dengan pengendapan secara pasif. Uzlah, sambil menunggu masa berubah. Ada pula keyakinan, bahwa perubahan pasti datang. Hanya menunggu waktu ketika. Optiomisme itu, sebenarnya telah menguatkan diri umat. Tum­buh disiplin dari dalam, dan tidak hanya sekedar tumbuh paksa dari luar. Atau, bukan pula disiplin, ibarat itik pulang petang, yang berbaris patuh teratur, di bawah komando sebilah ranting. Disiplin paksaan seperti itu, telah pernah dicoba diterapkan oleh Demokrasi Terpimpin. Dan paksaan-paksaan sedemikian itu, tidak diterima oleh ruh umat.
Sepeninggal pemerintahan Presiden Soekarno, (sesudah tahun 1996), perlawanan yang dihadapkan kepada umat Islam tetap berlaku, dan terencana dengan apik oleh kelompok phobia Islam, dan kalangan salibiyah, serta kelompok sekuler, yang juga tidak pernah senang kepada peranan pemimpin Islam, di Republik ini. Kelompok-kelompok itu, telah ikut memanfaatkan. Berbagai semboyan menyudutkan Islam, seperti extrem kanan, fundamentalis, hijau royo-royo, secara sistematis ditampilkan. Kecemasan-kecemasan ini, juga tampak ketika sangat berperannya ICMI, ataupun Dewan Da’wah, dan ormas Islam lainnya, di dalam pemerintahan. Kadangkala, Dewan Da’wah dan ICMI, dianggap wadah kebangkitan serta pusat kekuatan umat Islam baru, di Republik Indonesia. Penilaian seperti ini, salah satu bukti paling nyata, adanya kelompok phobia Islam di negeri ini.
Karakteristik ajaran Islam yang multidimensional sebagai ajaran hidup Ilahiyah, dalam perjalanan sejarah umat Islam, sampai saat ini melahirkan pandangan terhadap Islam yang multi interpretasi baik yang menyangkut aspek aqidah/tauhid, syari’at maupun akhlaq/tassawuf terlebih lagi dalam kajian sejarah Islam banyak sekali interpretasi terhadapnya. Multi interpretasi terhadap ajaran Islam tidak hanya pada tataran furu’iyah (cabang) tetapi juga masuk pada tataran Ushul (pokok). Interpretasi yang seharusnya menjadi rahmat yang membawa berkah bagi kehidupan kaum muslimin khususnya dan kehidupan manusia di dunia secara umum, karena watak ajaran Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Tetapi kenyataan interpretasi terhadap ajaran Islam membuahkan perpecahan tafarruk di kalangan kaum muslimin bahkan menjadi musibah bagi sebagian golongan mustad’afin-yang tertindas.
Jika pada masa Rasululloh SAW terdapat ”unity of command” kesatuan komando dalam mengejewantahkan ajaran Islam pada segala bentuk dan aspek kehidupan yang menyangkut diri, keluarga, masyarakat dan negara, sehingga Islam bisa mempersatukan umat manusia di dunia dalam kesatuan keyakinan, kesatuan masyarakat/ummat dan kesatuan negara sampai kesatuan khilafah.
Maka perjalanan sejarah umat Islam selanjutnya diwarnai oleh noda-noda pertikaian, embrio perpecahan dan cikal bakal pertentangan yang menjadi bom waktu ketika kesatuan komando Kekhilafahan Islam telah hapus tertelan kedzoliman dan keserakahan para musuh-musuh Allah, musuh Rosul dan musuh orang-orang beriman.
Tidak adanya kesatuan komando/kepemimpinan secara integralistik antara aspek kepemimpinan politis/negara/khilafah, aspek kepemimpinan intelektual dan aspek kepemimpinan spiritual seperti yang diperankan oleh Rosulullah saw, menyebabkan ajaran Islam dan umat Islam mengalami tafarruk multidimensional.
Sudah lama umat Islam telah mencanangkan abad 15 H sebagai abad kebangkitan Islam, saat para Hamba Allah yang Sholeh tampil sebagai aktor yang memimpin bumi sebagai Khalifah, saat Islam terbebas dari berbagai fitnah, saat keadilan Allah tegak di muka bumi. Daya upaya untuk membentuk “wihdatul ummah”– kesatuan ummat Islam hanya bisa ditempuh dengan satu jalan yaitu DAKWAH.
Dakwah adalah pijakan perjuangan yang dilakukan oleh para Rosul- Utusan Allah untuk menata kehidupan manusia sesuai dengan kehendak Al-Khaliq. Dakwah itupulalah yang wajib dijadikan pijakan oleh para pelanjut, penerus dan pembela Rosululloh saw yang mencita-citakan Baldah Thoyyibah wa Robbun Ghofur.
Tantangan dakwah ditengah keadaan Islam dan umat Islam yang mengalami Tafarruk Multidimensional tidaklah sesederhana seperti pengertian dan filosofis dakwah secara teoritis dan bersifat linier dai-mad’u dalam suatu proses komunikasi timbal balik, tetapi tututannya adalah diantaranya adanya kemampuan dalam memahami peta wilayah dakwah.
Indonesia dalam struktur geopolitis mesti dipahami oleh pelaku dakwah yang mencita-citakan tanah tumpah kelahirannya mendapatkan ampunan, rahmat, karunia dan berkah dari Allah SWT. Terlebih lagi dimasa krisis multidimensional sekarang ini telah pantas dan layak umat Islam menunjukan peran untuk menjadikan ajaran Islam sebagai solusi alternatif satu-satunya yang mampu memperbaiki tata kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.
Ajaran Islam yang integralistik menyangkut pula aspek sosio politik memberikan konsekuensi logis akan bersinggungannya antara kepentingan gerakan dakwah dengan kepentingan negara sebagai institusi politik. Ada akar historis yang bisa kita cari pelajaran sejarahnya –Ibrah tentang relasi-hubungan gerakan dakwah dengan kehidupan negara meskipun potret hubungannya seperti benang kusut yang perlu di urut dan diurai dengan baik dan benar.
Tantangan Tantangannya
·       Mutu Dakwah yang didalamnya tercakup persoalan penyempurnaan sistem perlengkapan peralatan, peningkatan teknik komunikasi, lebih – lebih lagi sangat dirasakan perlunya dalam usaha menghadapi tantangan (konfrontasi) dari bermacam-macam usaha yang sekarang giat dilancarkan oleh penganut agama-agama lain dan kepercayaan-kepercayaan (antara lain faham anti tuhan yang masih merayap di bawah tanah), katolik, protestan, hindu, budha, dan sebagainya terhadap masyarakat islam.
·      Planning dan Integritasi yang didalamnya tercakup persoalan-persoalan yang diawali oleh peneliti (research) dan disusul oleh pengitegrasian segala unsur dan badan-badan dakwah yang telah ada dalam masyarakat ke dalam suatu kerja sama yang baik dan berencana.
Dalam menampung masalah-masalah tersebut, yang mengandung cakupan yang cukup luas dan sifat yang cukup kompleks, maka musyawarah alim ulama itu memandang perlu membentuk suatu wadah yang kemudian dijelmakan dalam sebuah yayasan yang diberi nama dewan dakwah islamiyah indonesia disingkat dewan dakwah. pengurus pusat yayasan ini berkedudukan di ibu kota negara, dan dimungkinkan memiliki perwakilan dikota daerah tingkat I serta pembantu perwakilan di tiap-tiap daerah tingkat II seluruh indonesia.
Dimana perlu dan dalam keadaan mengizinkan, dewan dakwah dapat tampil mengisi kekosongan, antara lain menciptakan suatu usaha berbentuk atau bersifat dakwah, usaha mana sebelumnya belum pernah diadakan, seperti emngadakan pilot projek dalam bidang dakwah.
4. Proses islamisasi di Cina, secara historis, dan tokoh awal penyebar Islam di Cina
Islam adalah agama universal, yang bisa diterima oleh semua golongan; suku, bangsa, dan adat istiadat. Karena itu, Islam cepat diterima masyarakat karena prinsip toleran (tasammuh), moderat (tawasuth), berkeadilan, dan seimbang (tawazzun). Hal ini pun terjadi pula pada masyarakat Cina. Negeri dengan penduduknya kini lebih dari satu miliar ini, menerima Islam dengan sambutan hangat.
Sejarah mencatat, Islam masuk ke Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), yang dibawa oleh salah seorang panglima Muslim, Saad bin Abi Waqqash RA, di masa Khalifah Utsman bin Affan RA. Menurut Chen Yuen, dalam karyanya, A Brief Study of the Introduction of Islam to China, masuknya Islam ke Cina sekitar tahun 30 H atau sekitar 651 M.
Ketika itu, Cina diperintah oleh Kaisar Yong Hui (ada pula yang menyebut nama Yung Wei). Data masuknya Islam ke Cina ini dipertegas lagi oleh Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya, Muslims in China (Perkembangan Islam di Tiongkok). Buku ini secara lengkap mengupas sejarah perkembangan Islam di Cina sejak awal masuk hingga tahun 1980-an.
Sebelumnya, banyak hikayat yang berkembang mengenai masuknya Islam ke Negeri Tirai Bambu ini. Namun, semua hikayat itu menceritakan adanya tokoh utama di balik penyebaran agama Islam di Cina.
Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa sahabat Rasulullah SAW yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethiopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethiopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraisy jahiliyah. Mereka antara lain Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Utsman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqash dan sejumlah sahabat lainnya.
Para sahabat yang hijrah ke Ethiopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di Kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581-618 M).
Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Saad bin Abi Waqqash dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethiopia pada 616 M. Setelah sampai di Cina, Saad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa Kitab Suci Alquran.
Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M--kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Saad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan Cina. Konon, Saad meninggal dunia di Cina pada 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys' Mazars. Menurut Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya, Muslims in China, versi terakhir ini yang lebih valid.
Utusan Khalifah Utsman itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang. Kaisar Yong Hui menghargai ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam punya kesamaan dengan ajaran Konfusionisme. Untuk menunjukkan kekagumannya terhadap Islam, kaisar mengizinkan berdirinya masjid pertama di Chang-an (Kanton). Masjid itu bernama Huaisheng atau Masjid Memorial.
Menurut versi Ibrahim Tien Ying Ma, masjid itu diberi nama Kwang Tah Se, yang berarti menara Cemerlang, dan dibangun oleh Yusuf. Sedangkan, masjid lainnya yang dibangun di sini adalah Chee Lin Se, yang berarti masjid dengan tanduk satu. Kedua masjid itu masih tetap berdiri hingga saat ini setelah 14 abad.
Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.
5. Corak dan pola dakwah islam pada priode Dinasti Fathimiyah
Kemunculan dinasti Fatimiyah tidak terlepas dari gerakan-gerakan militan dan frontal yang dilakukan oleh Syi’ah Ismailiyah yang dipimpin oleh Abdullah ibn Syi’i. Pada tahun 909, gerakan tersebut berhasil mendirikan dinasti Fatimiyah di Tunisia (Afrika Utara) dibawah pimpinan Sa’id ibn al-Husain setelah mengalahkan dinasti Aghlabiah. Dinasti Fatimiyah merasakan tiga ibu kota  yaitu: Raqadah,  al-Mahdiyah dan Kairo dibawah 14 khalifah selama 262 tahun yaitu sejak tahun 909 hingga 1171.
Sistem politik pada Dinasti Fatimiyah menganut doktrin keimaman Syi’ah yaitu  jabatan Imamah (Khilafah di kalangan Sunni) merupakan hak Ahl al-Bait yakni keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, yang dalam hal ini Dinasti Fatimiyah berasal dari Ismail, putera Imam keenam Ja’far as Shadiq.
Pemerintahan Fatimiyah ini dapat dimasukkan ke dalam model pemerintahan yang bersifat keagamaan, yaitu agama dijadikan sebagai motivasi kebangkitan melawan rezim yang mapan.Selanjutnya simbol-simbol keagamaan (Syi’ah), khususnya yang terkait dengan keluarga Ali, sangat ditonjolkan dalam mengurus pemerintahan. Terbukti pada tahun 379 M, semua jabatan di berbagai bidang  politik, agama, dan militer  diduduki oleh Syi’ah. Oleh karena itu, sebagian pejabat Fatimiah yang Suni beralih ke Syi’ah supaya jabatannya meningkat.
Masa keemasan dinasti Fatimiyah dimulai sejak pindahnya pemerintahan ke Kairo Mesir pada masa Abu Tamim Ma’add al-Mu’iz li-Din Allah (952 M – 975) M  dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Abu al-Manshur Nizar al-Aziz (975-996). Kejayaan itu dapat dilihat dalam bidang agama dengan toleransi yang tinggi, pendidikan dengan pembangunan universitas dan perpustakaan, , militer dengan pasukan bayaran, ekonomi dengan infrastruktur, aturan yang adil dan menjadi jalur internasional, kebudayaan dan peradaban dengan kota Kairo sebagai bukti, arsitektur dengan masjid al-Azhar dan kesenian dengan produk tekstil, tenunan, keramik dan penjilidan.
Kemunduran dinasti Fatimiyah dimulai dari masa pemerintahan al-Hakim  yang bertindak kejam dan sewenang-wenang, dan terus merosot pasca pemerintahan al-Zhahir dan berakhir pada masa al-Adid. Kemunduran itu karena faktor eksternal berupa rongrongan dari penguasa luar dan pertikaian  internal. Juga usia khalifah yang sangat belia mulai al-Hakim hingga khalifah terakhir.
6.Sejarah dan karakeristik dakwah Islam masa kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire)
Penjelasan: Bangsa Turki tercatat dalam sejarah atas keberhasilannya mendirikan dua Dinasti, yaitu Dinasti Turki Saljuk dan Turki Usmani. Kehancuran Dinasti Turki Saljuk oleh serangan bangsa Mongol merupakan awal dari terbentuknya Dinasti Turki Usmani.
Anatolia sebelum masa orang-orang utsmaniyah
Negeri Anatolia (asia kecil) dahulu sebelum islam merupakan kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Byzantium (romawi timmur). Penaklukan-penaklukan oleh pasukan islam sampai di sebagian wilayah timur negeri ini, dari ujung Armenia hingga ke puncak gunung  thurus  sejak tahun 50 H, pada masa kekhalifahan muawiyah , kam muslim belum mampu menaklukkan konstanttinopel, walaupun telah dilakukan berulang kali usaha penyerangan.
Setelah perang maladzikr pada tahun 463 H yang dimenagkan oleh orang-orang saljuk dengan kemenangan yang gemilang aas romawi, pengaruh kemenangan ini terus meluas ke negeri Anatolia. Mereka saat itu telah memiliki pemerintahan yang terkemuka yaitu pemerintahan romawi saljuk.
Anatolia kemudian jau ke tangan Mongolia, setelah merebutnya dari saljuk romawi . maka terjadilah peperangan antara Mongolia dank am muslimin dan ini terjadi pada tahun 641 H. setelah kekalahan Mongolia pada perang ain jalut, tahun 658 H berangkatlah Zharir Bibris ke saljuk Romawi dan Mongolia, menyusul kekalahan besar ini sebagai pelajaran besar ini. Bersamaan dengan lemahnya Mongolia , pemerintahan utsmaniyah lalu menguasainya pada masa yang berbeda.
Orang-orang Utsmaniyah bernasab pada kabilah qobi yang berasal dari kabilah Ghizz Turkmaniyah yang beragama islam dari negeri Turkistan.Tatkala terjadi penyerbuan mongolia atas negeri itu, kakek mereka (sulaiman) berhijrah ke negeri romawi, lalu ke syam dab ke irak. Dan mereka tenggelam di sungai Eufrat. Kabilah ini lalu terpecah-pecah. Satu kelompok lalu kembali ke negeri asalnya. Dan satu kelompoknya bersama dengan Erthoghul bin sulaiman.
Nama Kerajaan Usmani diambil dari nama putra Erthogrul. Ia mempunyai seorang putra yang bernama Usman yang lahir pada tahun 1258. Nama Usman inilah yang kemudian lahir istilah Kerajaan Turki Usmani atau Kerajaan Usmani. Pendiri Kerajaan ini adalah bangsa Turki dari Kabila Oghus. Yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara Negeri Cina, kemudian pindah ke Turkistan, lalu ke Persia dan Iraq sekitar abad ke-9 dan 10.
Pada abad ke-13 M, Erthoghul pergi ke Anatolia. Wilayah itu berada dibawah kekuasaan Sultan Alaudin II (Salajikoh Alaudin Kaiqobad). Erthoghul membantunya melawan serangan dari Byzantium. Ertoghul menang dan mendapatkan sebagian wilayah (Asyki Syahr) dari Alaudin dari Byzantium dan sebagian hartanyamereka melarikan diri ke wilayah Barat sebagai akibat dari serangan Mongol. mereka mencari tempat perlindungan dari Turki Saljuk di daratan Tinggi Asia Kecil. Di bawah pimpinan Ertugrul, mereka mengabdikan diri pada Sultan Alauddin II, Sultan Saljuk yang berperang melawan Bizantium. Atas jasa baiknya, Sultan Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil, yang berbatasan dengan Bizantium dan memilih Syukud sebagai Ibu kotanya.
Ertugrul meninggal dunia pada tahun 1289 M. kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Usman (1281-1324), atas persetujuan Alauddin. Pada tahun 1300, bangsa Mongol Menyerang Kerajaan Saljuk, dan Dinasti ini terpecah-pecah dalam beberapa Dinasti kecil. Dalam kondisi kehancuran Saljuk inilah, Usman mengklaim Kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang didudukinya, sekaligus memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki Usmani. Dengan demikian, secara tidak langsung mereka mengakui Usman sebagai penguasa tertinggi dengan gelar “Padinsyah Ali Usman”.
Setelah Usman mengakui dirinya sebagai Raja Besar Keluarga Usman pada tahun 699 H/1300 M, secara bertahap ia memperluas wilayahnya. Penyerangan awal dilakukan di sekitar daerah perbatasan Bizantium dan Brussa (Broessa) dijadikan salah satu daerah yang menjadi objek taklukan. Pada tahun 1317 M. wilayah tersebut dapat dikuasainya dan dijadikan sebagai ibu kota pada tahun 1326 M.
Diakhir kehidupannya Usman menunjuk Orchan (42) anak yang lebih muda dari kedua orang putranya sebagai calon pengganti memimpin kerajaan. Keputusan tersebut disandarkan pada pertimbangan kemampuan dan bakat anaknya  masing-masing. Orchan sebagai prajurit yang potensial telah mendapat pengawasan dari ayahnya dan telah menunjukkan kemampuannya dalam konteks militer pada penaklukkan Brossa. Sementara Alauddin (kakaknya) lebih potensial dalam bidang agama dan hukum.  Meskipun mereka sama-sama dibina dan dididik oleh ayahnya. Sasaran Orchan setelah penobatannya menjadi raja ialah penaklukkan kota Yunani seperti Nicea dan Nicomania. Nicea menyerah pada tahun 1327 dan Nocomedia takluk pada tahun 1338 M.
7. Dakwah Islam pada era reformasi dan teknologi modern
Ketika era Reformasi melahirkan banyak partai-partai, maka banyak juga tampil partai-partai, yang berani menyatakan prinsip berasas Islam. Kehadiran partai-partai itu, masih tetap dilihat sebagai bahaya. Aliran politik Islam tetap dicurigai. Ada kecemasan tersendiri. Hal ini telah terjadi, mungkin dikarenakan politisi nasionalis yang bernafas dalam keterikatan dengan paham liberalisme ala barat, dan berdalih demokratisasi. Banyak pula yang mulai menghembus nafas dalam slogan Islam Yes, Partai Islam No.
Ketika pimpinan umat dalam Majlis Ulama Indonesia (MUI), dan Dewan Da’wah, menyerukan kepada umat Islam di Indonesia, untuk tetap memilih calon-calon legislatif yang seaqidah iman atau beragama Islam, maka seruan itu, dinilai tidak proporsional. Seruan pemimpin umat Islam dianggap sangat meresahkan. Bahkan, dinilai membahayakan, bagi kelangsungan kehidupan bernasional. Sangat aneh yang terjadi, perkembangan politik umat Islam sangat lemah, di negeri yang jumlah umat Islamnya terbilang banyak. Perjuangan untuk memperoleh kekuasaan, adalah fenomena politik yang paling menonjol dalam masyarakat.
Porsi kekuasaan yang diperoleh setiap kekuatan sosial masyarakat berujung pada menerjemahkan citacitanya menjadi kenyataan konkrit. Setiap kelompok sosial politik, lewat kekuasaan yang diperoleh, selalu berusaha melakukan alokasi otoritatif nilainilai yang diyakininya. Demikianlah yang telah terjadi, sejak tahun 1960, tahun 1966, dan tahun 1998.
Demokratisasi yang dibungkus oleh stabilitas keamanan, sangat sering dijadikan penekan, untuk tujuan melemahkan peranan politik umat Islam, sejak dari masa Demokrasi Terpimpin.
Akibat langsung yang tampak dan dirasakan adalah, banyak pemimpin umat yang menduduki pucuk pimpinan di partai Islam ditahan dan dipenjarakan. Mohamad Natsir dan Boerhanoeddin Harahap berada dalam tahanan politik dari tahun 1961 hingga 1967. Bapak Prawoto Mangkusasmito, Mohammad Roem, M.Yunan Nasution, E.Z. Muttaqin dan KH Isa Anshary, ditahan pula di Madiun pada tahun 1962. Demikian juga Ghazali Sjahlan, Jusuf Wibisono, Mr. Kasman Singodimejo di Sukabumi. Penangkapan dan penahanan terhadap S. Soemarsono, A. Mukti, Djanamar Adjam, KH.M. Syaaf dan lain. Kebanyakan pemimpin bekas partai Masyumi. Pemimpin kecil di daerah-daerah juga ikut merasakan tekanan-tekanan, setidak-tidaknya dikucilkan. Suatu dinamika perjalanan sejarah politik di Indonesia.
Kemudian, banyak pula partai-partai yang telah membubarkan diri, karena berseberangan dengan kebijaksanaan pemerintah Presiden Soekarno. Namun, tetap dianggap berlawanan dengan Pemerintah Orde Baru.
Partai Islam sangat menentang komunisme, tetapi masih tetap disebut, tidak sejalan dengan Orde Baru. Padahal, perjalanan sejarah pemerintahan Orde Baru, dimulai dengan menghapus semua paham politik komunis di Indonesia. Tetapi, gelar yang dicapkan dengan “kontra revolusi”, atau bekas “partai yang dilarang”, masih terus berjalan, hingga puluhan tahun kemudian. Walaupun zaman telah berganti, namun kekuatan umat Islam tetap didorong kepinggiran arena percaturan politik berbangsa.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, timbul beberapa pertanyaan, di antaranya, apakah rasa nasionalisme Natsir dan kawan-kawan, yang pernah memimpin Partai Politik Islam Masyumi itu, masih diragukan ?.
Padahal, Mohamad Natsir menilai, nasionalisme adalah fithrah manusia mencintai tanah air yang diyakini sebagai anugerah (rahmat) Allah. Agama Islam mengajarkan agar umatnya menjaga tanah airnya sebagai suatu suruhan Agama Islam. Nasionalisme menurut Natsir, harus mendapatkan nafas keagamaan agar tidak menimbulkan perasaan ta’ashub dan chauvinisme. Karena itu, sejak usia mudanya, Natsir selalu terlibat di dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mohamad Natsir menerima pandangan dalam perjuangan, bahwa pembentukan sebuah negara bangsa (nation-state) adalah suatu keharusan. Negara Bangsa, adalah sebuah alat yang perlu untuk merealisasikan ajaran-ajaran Islam kedalam situasi konkrit.Mohamad Natsir menganut keyakinan bahwa politik harus ditundukkan kepada etika yang tinggi. Dengan cara itu, keinginan untuk berkuasa sendiri, tidak sesuai dengannya, dan paham menghalalkan segala cara, harus dihindari jauh-jauh.
Salah paham terhadap Masyumi selalu saja ada. Namun, bila diteliti tujuan Masyumi di dalam anggaran dasarnya, tertera jelas adalah untuk memperjuangkan terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia, dalam menuju keridhaan Allah. Dalam pandangan politik-nya, Masyumi sangat konsekwen menentang komunisme dalam segala bentuk.
Pemaksaan kehendak kepada rakyat kecil, telah men-jauhkan masyarakat dari pemerintahnya. Pancasila seakan hanya dijadikan sebagai mantel. Pancasila tidak lagi menjadi falsafah hidup dalam kehidupan berbangsa. Ironis sekali yang terjadi. Organisasi agama juga tidak boleh berazaskan agamanya. Dalam proses sosial secara tidak sadar telah memasuki fullgrown sekularisme.
Tanpa terasa dominasi golongan minoritas mulai mengganggu rasa keadilan masyarakat luas. Muncul usaha de-Islamisasi.
Karena itu, era reformasi yang bergulir sesudahnya, di tahun 1998, sungguh menjadi harapan baru bagi rakyat Indonesia, menuju perubahan. Tetapi, ternyata reformasi belum lagi menyentuh hal-hal yang substasi dalam membangun kehidupan bernegara. Kelihatannya, reformasi baru pada tatanan bungkus saja. Esensi kekuasaan masih bertahan pada kelompok yang mengandalkan kekuatan politik yang besar. Belakangan, kekuasaan berpindah ke tangan yang menguasai sumber keuangan yang melimpah. Demokrasi jadi semacam komoditi yang diperjual-belikan. Masih terasa jauh dari kebenaran dan keadilan. Sementara, kekuatan umat Islam, masih dianggap mencemaskan.
C. Teknologi Modern
Pada tahun-tahun sebelum masehi, kemajuan proses komunikasi dimulai pada saat ditemukannya seperangkat lambang dan simbol-simbol yang dapat dipahami maknanya secara luas. Perkembangan selanjutnya adalah ditemukannya sejumlah sarana untuk menulis maupun menggambarkan lambang dan simbol-simbol tersebut. Meskipun pada akhirnya aksara atau huruf ditemukan, namun lambang dan simbol-simbol berupa gambar-gambar lebih dulu ditentukan sebagai pengganti suara dalam berkomunikasi.
Sedangkan untuk periode modern, meskipun mesin cetak ditemukan di Cina pada abad ke-10, namun teknologi komunikasi baru dinyatakan berkembang pada tahun 1440, tahun di mana mesin cetak yang lebih efisien ditemukan oleh Johannes Gutenberg mencetak Bibel untuk pertama kali, moment ini dianggap sebagai revolusi kedua di bidang komunikasi.
Film dimasukkan ke dalam kelompok komunikasi massa. Selain mengandung aspek hiburan dan informasi, juga memuat pesan edukatif. Namun aspek sosial kontrolnya tidak sekuat pada surat kabar atau televisi yang memang menyiarkan berita berdasarkan fakta. Fakta dalam film ditampilkan secara abstrak, tema cerita bertitik tolak dari fenomena yang terjadi di tengah masyarakat dan  dalam film, cerita dibuat secara imajinatif. Film sebagai alat komunikasi massa baru dimulai pada tahun 1901, ketika Ferdinand Zecca membuat film “The Story of Crime” di Perancis dan Edwar S. Porter membuat film “The Life of an American Fireman” tahun 1992.
Film suara baru ditemukan pada tahun 1927. Dari masa ke masa, film mengalami perkembangan, termasuk soal warna yang semula hitam putih sekarang sudah berwarna. Namun, film tidak disebut sebagai komunikasi atau media massa, karena media massa lebih berkonotasi kepada media yang memuat berita yang digarap oleh para reporter atau wartawan. Film lebih banyak difahami sebagai media hiburan semata yang diputar di bioskop dan televisi.[1]
Televisi mulai dapat dinikmati oleh publik Amerika Serikat (AS) pada tahun 1939, yaitu ketika berlangsungnya “World’s Fair” di New York, namun sempat terhenti ketika terjadi Perang Dunia II. Sekarang , sudah sekitar 750 stasiun televisi terdapat di negara Paman Sam itu. Tak heran, bila televisi akhirnya menjadi kebutuhan hidup sehari-hari di seluruh penjuru AS dan merupakan kekuatan yang luar biasa dalam komunikasi massa. Lebih dari 75 juta pesawat televisi digunakan secara tetap.[2]
Pada tahun 1946, televisi dinikmati sebagai media massa ketika khalayak dapat menonton siaran Rapat Dewan Keamanan PBB di New York. Dewasa ini, setiap negara telah mempunyai pemancar televisi. Bahkan melalui parabola yang terhubung dengan satelit, pemirsa dapat menikmati siaran dari luar negaranya seperti yang terjadi di Indonesia. Dengan demikian arus berita dan informasi lewat televisi semakin beragam.
Namun demikian, penyiaran televisi ke rumah pertama dilakukan pada tahun 1928 secara terbatas ke rumah tiga orang eksekutif General Electric, menggunakan alat yang sederhana. Sedangkan penyiaran televise secara elektrik pertama kali dilakukan pada tahun 1936 oleh British Broadcasting Coorporation. Semetara di Jerman penyiaran TV pertama kali terjadi pada tanggal 11 Mei 1939. Stasiun televisi itu kemudian diberi nama Nipko, sebagai pengahargaan terhadap Paul Nikov.[3]
Televisi selain menyajikan aspek hiburan, juga menyiarkan berita, yang ada antaranya bersifat sosial kontrol. Karena itu, televisi sebagai media massa telah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat di rumah tangga masing-masing.
Sebagai media massa yang muncul belakangan dibandingkan media cetak, televisi baru berperan selama tiga puluh tahun. ‘Kotak ajaib’ ini sendiri lahir setelah adanya beberapa penemuan tekhnologi, seperti telepon, telegraf, fotografi (yang bergerak dan tidak bergerak) serta rekaman suara. Terlepas dari semua itu, pada kenyataannya media televisi kini dapat dibahas secara mendalam, baik dari segi isi pesan maupun penggunaannya.
Bangsa Indonesia baru pada tahun 1962 mendirikan stasiun televise mlik Pemerintah yaitu TVRI dalam rangka mensukseskan Asian Games 1963. Selanjutnya pada thun 1976 Bangsa Indonesia mengadakan lompatan dalam dunia komuniasi dengan diluncurkannya satelit komunikasi dengan nama Sistem Komunikasi  Satelit Domestik (SKSD) Palapa, pada waktu itu Indonesia adalah Negara kedua setelah Canada dan Negara pertama di Asia yang memiliki satelit.
Komputer pertama yang bernama Colossus 1, dibuat di Amerika Serikat pada awal tahun 1941. Perkembangan-perkembangan sebelumnya, yang merintis lahirnya komputer modern adalah dimulai dari berkembangnya aljabar logik dari George Boole (Inggris), yang dikembangkan oleh Charles Babbage yang menghasilkan kalkulator manikal yang dinamakan ‘Differential Engine’.
Dari perkembangan tersebutlah, lalu pada tahun 1937 seorang insyinyur Amerika, Howard Aiken merancang IBM Mark 7, yang menjadi cikal-bakal dari komputer besar masa kini, yang mengunakan tabung hampa udara dan memiliki tombol-tombol elektromagnetik, bukan elektronik.  Komputer elektronik yang pertama yang telah dituliskan bernama Colossus 1, akhirnya dibuat oleh Alan Turing dan M.H.A Neuman, untuk pemerintah Britania di universitas Manchester.[4]
Dari kemunculan komputer inilah yang di kemudian hari terus berkemembang dan akhirnya lahirlah internet  sebagai media baru. Tahun 1972 merupakan awal kelahiran jaringan internet, yaitu dengan adanya proyek yang menghubungkan antara jaringan komunikasi pada jaringan komputer ARPANET. Proyek tersebut telah menetapkan sebuah metoda baru untuk menghubungkan berbagai macam jaringan yang berbeda yang dikenal sebagai konsep gateway. Pada tahun 1973-1977, dikembangkan protokol TCP/IP (Transmission Control/Internetworking Protocol). Protokol ini digunakan untuk pengiriman informasi yang dikenal sebagai paket (packet).[5]
Internet baru dimanfaatkan di Indonesia pada tahun 1996. Seseorang yang mempunyai pesawat komputer dapat menyambungkannya dengan jaringan komputer lainnya lewat satelit melalui provider. Perbedaannnya dengan teknologi komunikasi lainnya bahwa internet bersifat individual.
8. Sejarah dan pengaruh dewan dakwah Islam Indonesia (DDII)       
Penjelasan: Masa permulaan demokrasi terpimpin tahun 1957 mencatat Masyumi bukan saja tambah renggang dan asing bagi Soekarno melainkan juga tambah bertentangan secara konfrontatif dengan Presiden. Dengan Natsir sebagai Ketua Umum Partai, garis kebijaksanaan politik Masyumi terhadap Soekarno tambah keras, ia tidak dapat berkompromi dengan Soekarno dalam soal demokrasi.
Dalam mekanisme pelaksanaan demokrasi terpimpin anggota-anggota yang duduk dalam Dewan DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) adalah mereka yang disukai Soekarno, dan bertugas mengiyakan Move politiknya. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa orang-orang Masyumi dan PSI yang menentang politik Soekarno harus tersingkir. Di mata Masyumi sistem demokrasi terpimpin akan membawa bencana bagi bangsa dan negara. Semangat inilah sebagai idealisme martir Masyumi, yang mempunyai resiko politik yang besar bagi golongan modernis Muslim di Indonesia. Masyumi sebagai cagar demokrasi tampaknya tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi Soekarno dan sistemnya.
Harapan Masyumi bahwa rakyat akan berpihak kepada demokrasi, tidak kepada sistem otoriter, ternyata sia-sia. Sementara itu, PKI yang sangat lihai dalam manipulasi politik, berpihak sepenuhnya kepada sistem Soekarno. Pada masa Demokrasi Terpimpin, jargon politik PKI tentang golongan “kepala batu” sudah menyatu dengan jargon politik Soekarno yang juga menilai Masyumi sebagai kekuatan “kepala batu” yang merintangi penyelesaian revolusi Indonesia. Karena itu, Masyumi tidak patut lagi hidup pada era demokrasi terpimpin. Dengan demikian, di antara prinsip demokrasi terpimpin sebagaimana dikemukakan oleh Soekarno “tanpa otokrasi diktator” tidak berlaku bagi Masyumi. Masyumi harus dikorbankan “demi revolusi”. Semua ini adalah kepandaian manuver PKI dengan bantuan penuh dari Presiden Soekarno.
Akhirnya pukulan terakhir dialami partai Masyumi yang gigih mempertahankan prinsipnya ini. Pukul 05.20 pagi tanggal 17 Agustus 1960 hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Pimpinan Pusat Masyumi menerima surat dari Direktur Kabinet Presiden yang mengemukakan bahwa Masyumi harus dibubarkan. Dalam waktu 30 hari setelah keputusan ini, yaitu 17 Agustus 1960. Pimpinan partai Masyumi harus menyatakan partainya bubar, pembubaran ini harus diberitahukan kepada Presiden secepatnya. Kalau tidak, partai Masyumi akan diumumkan sebagai partai terlarang. Kurang dari sebulan demikian yaitu tanggal 13 September, pimpinan pusat Masyumi menyatakan partainya bubar. Ini tidak berarti bahwa Masyumi menyetujui instruksi Presiden.
Pembubaran Partai Masyumi oleh Presiden Soekarno ternyata meninggalkan luka politik cukup mendalam bagi masyarakat Indonesia, terutama kelompok yang mengembangkan aspirasi Islam modernis, kata Remy Madinier, pengamat sejarah tentang RI dari Perancis. “Dalam periode 1950-an, Partai Masyumi menunjukkan kegiatan bercirikan Islam modern yang cukup terstruktur di tingkat parlemen maupun kelompok massa. Dari sisi kedekatan pribadi Muhammad Natsir selaku pimpinan Masyumi dengan Presiden Soekarno juga sangat baik, walaupun unik,” ujarnya dalam percakapan dengan ANTARA di Pusat Kajian Asia di Paris, Jumat.
Hanya saja, katanya, Partai Masyumi memainkan peran politik yang terlalu keras menghadapi kekuatan kelompok komunis dan nasionalis di saat parlemen RI membahas pembentukan Undang-Undang Dasar (UUD) di akhir tahun 1950-an. Madinier, yang meneliti sejarah Partai Masyumi selama enam tahun terakhir ini menilai, kedekatan pribadi Natsir dengan Soekarno malah menciptakan “benturan kepentingan berpolitik”.
Konon setelah berakhirnya periode Masyumi, Warga Bulan Bintang mengalami kevakuman politik namun beberapa saksi mengutip dan menggarisbawahi pesan Mr. Mohammad Natsir bahwa; Keluarga Besar Bulan Bintang harus bisa hidup, berkarya dan berjuang dimana saja untuk kepentingan ummat, bangsa dan negara laksana cendawan yang tumbuh di musim penghujan. Diskriminasi atas Masyumi pada masa rezim orde lama berlanjut dengan kebijakan politik rezim orde baru yang menolak merehabilitasi Partai Masyumi.
Menyikap hal ini Keluarga Besar Bulan Bintang terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok yang beralih ke gerakan dakwah dan mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dengan M. Natsir, Muhammad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Anwar Haryono dan Yunan Nasution sebagai tokoh sentralnya. Setelah dilarang untuk beraktifitas dalam dunia politik, mereka melihat celah lain untuk berkiprah di masyarakat, yakni dengan berdakwah.
Kedua, kelompok yang tetap berada di wilayah politik dengan membentuk Par-musi (Partai Muslimin Indonesia), sebuah partai yang sengaja didirikan sebagai pengganti Masyumi dan direstui pemerintah Orde Baru.
Ketiga, kelompok teknokrat yang lebih pragmatis. Mereka adalah bekas anggota dan simpatisan Masyumi dan mendapatkan karirnya melalui Golkar atau organisasi underbow-nya. Di luar ke-tiga kelompok ini, terdapat juga sekelompok kecil anggota dan simpatisan Masyumi yang terlibat dalam gerakan DI/TII dan NII.

Komentar