Soal Uts Sejarah Dakwah dan Jawabannya
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ...............
SOAL UJIAN MIDTERM SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2017/2018
MATA KULIAH : SEJARAH DAKWAH
KODE/SKS : DAK.2007/3 SKS
UNIT : -
DOSEN :
NAMA :
NIRM :
Jelaskan
hal-hal berikut!
1.
Sejarah perkembangan dakwah islam pada masa Bani Ummayah, termasuk
era spanyol!
Penjelasan: Bersamaan dengan
meninggalnya khalifah Ali bin Abu Thalib maka hilang sudah sistem pemerintahan
khalifah yang bersifat demokratis. Bentuk pemerintahan berganti menjadi dinasti
(kerajaan). Sejak dulu Mu’awwiyah sangat berambisi untuk duduk di kursi
kekuasaan. Oleh karena itu, ia melakukan segala cara, dengan siasat dan tipu
muslihat yang licik. Kedudukannya sebagai khalifah tidak berdasarkan musyawarah
dan kesepakatan kaum muslimin.
Selama dinasti ini berkuasa, banyak
kemajuan yang dicapai, khususnya dalam bidang penaklukan daerah danperluasan
wilayah. Untuk perluasan wilayah barat
dikirimlah putranya sendiri, yazid bin Mu’awwiyah ke daerah Byzantium,
sedangkan ke wilayah Timur dikirim panglima Muhallab bin Abi Sufrah. Selain
itu, masih banyak panglima-panglima lain yang ditugaskan oleh muawiyyah untuk
mengadakan perluasan ke wilayah Afrika.
Selama kekuasaan dinasti bani
umayyah, terdapat banyak perkembangan dan kemajuan yang dialami umat islam.
Daerah kekuasaan semakin luas dan persoalan pemerintahan dan persoalan hidup
pun semakin kompleks. Muawiyyah sangat berambisi untuk menakhlukkan Bizantium
dengan symbol kekuatannya terdapat di kota konstatinopel. Ada tiga hal yang
mendorong muawiyyah malakukan hal tersebut, yaitu sebagai berikut
a) Byzantium merupakan basis kekuatan Kristen ortodoks yang di anggap
akan berbahaya bagi perkembangan islam.
b) Orang-orang bizantium suka mengadakan penyerangan terhadap kaum
muslimin.
c)
Bizantium
memiliki kekayaan yang amat melimpah ruah.
Di laut Tengah armada laut Islam
berhadapan dengan armda Byzantium. Dalam suatu baku tembak diperairan Lychia
pasukan Islam berhasil menghancurkan armada Byzantium. Didaratan Afrikan Utara
pasukan Islam yang telah berhasil menduduki Mesir di zaman Umar, dilanjutkan
terus ole Khalifah Al-Walid (705-715 M) dari Bani Umayah. Dibawah Amir
Maghribi, Musa berhasil menaklukan kota lama Kartago, untuk seterusnya memasuki
daerah suku-suku bangsa Berber di Maghribi.
Setelah menguasai Afrika Utara pada
tahun 710 M Amir Musa memerintahkan Thariq bin
Zihad untuk menyeberang ke Tanjung Iberia didaratan Spanyol sebelah
barat. Begitu seluruh pasukan mendarat didaratan Iberia Spanyol Thariq membakar
semu perahu yang telah menyeberangkan mereka ke tujuan. Tindakan itu
dimaksudkan agar tidak ada pilihan bagi pasukan Islam, kecuali maju untuk
menyongsong hari baru, yaitu kemenangan.
Pada tahun 717-718 M operasi
dilanjutkan dengan kepemimpinan Al-Hurr bin Abdul Rahman Al-Tsagafi, sebagai
pengganti ketiga dari Amir Musa. Gerakan itu menuju Spanyol Utara setslah
menaklukan Saragosa. Langkah-langkah perluasan aderah itu terjadi di masa
Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M).
Peta kekhalifahan Umayah meliputi kawasan
yang amat luas. Disebelah barat berbatasan dengan Teluk Biskaye di Eropa dan
Maghribi di Afrika Utara. Disebelah timur berbatasan dengan Danau Aral, batas
Tiongkok dan Lemabah Indus di India. Belum lagi dikawasan seluruh jazirah Arab.
Sepanjang sejarah, dinasti bani
umayyah telah banyak memberikan andil besar terhadap perkembangan dan kemajuan
peradaban islam. Ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan baik, begitu pula
kebudayaannya. Di antara kebudayaan
islam yang berkembang pada masa itu, antara lain seni sastra, seni ukir,
seni suara,seni arsitektur, dan sebagainya. Pada masa ini telah banyak
didirikan bangunan-bangunan yang megah dan indah, seperti masjid-masjid,
rumah-rumah, perkantoran, istana para raja.
2. Keadaan
budaya masyarakat di sekitar wilayah kekuasaan Bani Umayyah
Ketika bani umayyah berkuasa, tapal
batas negara yang dapat memisahkan antara negara islam dan kafir segera dibuat,
sehingga jelaskan batas-batas wilayah kekuasaan mereka. Masuknya kekuataan
islam ke berbagai wilayah yang ditaklukkannya, sangat berpengaruh terhadap
perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakatnya, sebab islam tidak mematikan
kreatifitas masyarakat, bahkan sebaliknya. Islam mendorong umatnya untuk
senantiasa mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, sepanjang segala
upaya kreatif itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam.
3. Kemajuan-kemajuan
yang dicapai Bani Umayyah
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah
tepatnya pada masa kekuasaan Abdul Malik ibn Marwan, banyak terjadi perubahan
dan perkembangan, baik dibidang kenegaraan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan
bidang-bidang lainnya. Seperti kenegaraan, dibentuk organisasi-organisasi yang
diatur secara rapi. Organisasi-organisasi kenegaraan tersebut meliputi :
a.
An-Nizham
Asy-Siyasiy, yaitu organisasi politik yang diubah dari sistem demokrasi menjadi
sistem monarki, terdiri atas Al-Kitabah (sekretaris) dan Al-Hijabah (pengawal
khalifah).
b.
An-Nizham
Al-Idariy, yaitu organisasi yang mengurus bidang tata usaha kenegaraan.
c.
An-Nizham
Al-Maliy, yaitu organisasi yang mengurusi bidang keungan negara.
d.
An-Nizham
Al-Harbiy, yaitu organisasi pertahanan dengan tugas mempertahankan negara atau
wilayah dan mengadakan ekspansi daerah kekuasaan Islam.
e.
An-Nizham
Al-Qadhiy, yaitu organisasi yang bergerak dibidang kehakiman dan pengadilan.
Munculnya istilah-istilah
administrasi kenegaraan tersebut setelah mengalami perubahan bahasa dari bahasa
Yunani dan Pahlawi menjadi bahasa Arab yang masuk Islam untuk menyempurnakan
pengetahuan mereka tentang keislaman, dituntut untuk pandai berbahasa Arab.
Abdul Malik juga mengubah mata uang
yang dipakai didaerah-daerah yang dikuasai Islam. Sebelumnya mata uang yang
berlaku adalah mata uang Bizantium dan persia, seperti Denarius menjadi Dinar
dan Diram atau Drachme menjadi Dirham.
Dibidang pembangunan, mesjid-mesjid
pertama diluar semenanjung Arabia didirikan. Katedral St. John di Damaskus
diubah menjadi masjid. Di Al-Qudsi (Jerusalem), Abdul Malik membangun masjid
Al-Aqsha dan monumen terbaik yang bernama Qubbah As-Sakhr (Dome of the Rock).
Sepanjang perjalanan kekuasaannya,
dinasti Umayyah telah banyak membuat kemajuan dalam berbagaibidang. Pembangunan
berjalan pesat, baik dalam segi dakwah maupun pembangunan material. Diantara
kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa itu antara lain:
1.
Prestasi-prestasi
Besar
· Bidang administrator pemerintahan
Prestasi pertama yang diperoleh bani umayah terdapat dalam bidang
demokrasi pemerintahan. Tradisi melakuakn pencacahan jiwa penduduk dan system
pengiriman surat meyurat yang teratur. Sistem perpajakan di organisasikan
dengan sangat baik, karena merupakan sumberpendanaan paing besar dari
kekhalifahan yang makin rumit.
· Perluasan Daerah
Ø
Gerakan
ke Timur
Kearah
timur sampai ke sungai Ammu Darya dari sana gerakan mereka sampai
kedaerah-daerah degan berbahasa Turki, dan bahasa Persia. Pada tahun 723 M
pasukan muslim berhasil pula memasuki kawasan India.
Ø
Gerakan
ke utara
Gerakan
keutara terutama dalam menundukkan konstantinopel ibu kota Romawi Timur.
Ø
Gerakan
ke Eropa
Di
daratan Afrika Utara pasukan Islam yang telah berhasil menduduki Mesir di zaman
Umar, dilanjutkan terus oleh Khalifah Al Walid dari bani Umayah. Di bawah Amir
Maghribi, Musa berhasil menaklukan kota lama Kartago, untuk seterusnya memasuki
daerah suku bangsa Berber di Maghribi. Kartago merupakan bekas kota indah di
zaman Romawi dengan bangunan indah diperbukitan pantai Libia menghadap ke Laut
Tengah.
· Kemajuan dibidang ilmu pengetahuan
Pada masa kekuasaan bani umayah, ilmu pengetahuan berkembang pesat,
baik bersumber Al-Qur’an maupun yang bersumber dari akal manusia. Ilmu-ilmu
yang berkembang itu diantaranya:
1.
Ilmu
Tafsir Al-Qur’an
2.
Ilmu
Hadits Aatau Ulumul Hadits
3.
Ilmu
Qiraatil Qur’an
4.
Ilmu
Tata Bahasa
5.
Ilmu
Kimia yang berasal dari orang Yunani
6.
Ilmu
kedokteran
7.
Ilmu
seni, bauk arsitektur maupun yang lainnya
8.
Ilmu
Sejarah
9.
Kemajuan
dibidang pemerintahan
Dibidang pemerintahan, bani umayah
telah membentuk berbagai lembaga Negara beserta peraturan
perundangannya,seperti pencatatan korp pegawai pemerintah, pembentukan
pemerintah pusat dan daerah yang tidak hanya smpai tingkat provinsi melainkan
sampai kedistrik-distrik, pembentukan lembaga pengadilan lembaga pertahanan dan
keamanan Negara.
· Kemajuan dibidang ekonomi
Dibidang ekonomi mereka menggalinya dari berbagai sector, seperti
pertanian, perdagangan, dan industri. Karena itu, pemerintah mampu membiayai
pembangunan gedung-gedung nan megah, pembangunan sarana dan prasarana untuk
umum secara lengkap.
· Kemajuan dibidang dakwah
Dakwah umat islam tidak hanya berkembang di jazirah Arabia saja,
mereka telah sampai ke Tiongkok, India, denua Afrika dan Eropa. Mereka
berdakwah melalui berbagai jalur seperti jalur pendidikan, sosial budaya, dan
dengan menulis buku-buku agama. Khalifah Umar bin Abdul Aziz membangun mesjid
Nabawi menjadi lebih indah, megah, dan luas, berkat bantuan arsitek yang
dikirim dari Romawi. Begitu pula Khalifah Walid bin Abul Malik sempat membangun
mesjid Damaskus menjadi indah dan megah. Mesjid itu dibangunnya bersamaan
dengan pembangunan kota Damaskus. Mesjid Agung Damaskus bukti kemegahan Dinasti
Umayah.
· Kemajuan dibidang seni budaya
Berbagai bidang ilmu seni juga turut berkembang pada masa itu,
seperti seni arsitektur, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya.
Era Spanyol
Islam pertama kali masuk ke Spanyol
pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Wilayah Andalusia yang sekarang
disebut dengan Spanyol diujung selatan benua Eropa, masuk kedalam kekuasaan
dinasti bani Umayah semenjak Tariq bin Ziyad, bawahan Musa bin Nushair gubernur
Qairuwan, mengalahkan pasukan Spanyol pimpinan Roderik Raja bangsa Gothia (92
H/ 711 M). Spanyol diduduki umat islam pada zaman kholifah Al-Walid (705-715),
salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus.
Perkembangan Islam di Spanyol
berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Perkembangan itu dibagi menjadi
enam periode yaitu: Periode Pertama (711-755 M), Periode Kedua (755-912 M),
Periode Ketiga (912-1013 M), Periode Keempat (1013-1086 M), Periode Kelima
(1086-1248 M), dan Periode Keenam (1248-1492 M).
Kemajuan peradaban itu dipengaruhi
oleh kemajuan intelektual yang di dalamnya terdapat ilmu filsafat, sains,
fikih, musik dan kesenian, begitu juga dengan bahasa dan sastra, dan kemegahan
pembangunan fisik.
Faktor-faktor pendukung kemajuan
Spanyol Islam, diantaranya kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya
penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan
kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman
al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir.
Keberhasilan politik
pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa
lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah dan adanya toleransi yang
ditegakkan oleh penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi.
Kemunduran dan kehancuran Islam di
Spanyol antara lain, konflik Islam dengan Kristen,tidak adanya Ideologi
pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan
keterpencilan.
2. Sejarah dan metode dakwah islam di Asia Tenggara,
proses Islamisasi awal
Penjelasan:
Islam terus memutarkan roda penyebarannya, hingga ke seluruh penjuru dunia, hal
ini mencakup pula wilayah RAS Melayu, yakni Asia Tenggara. Setelah Islam
menyebar di daerah Timur Tengah dan mengekspansi kekuasan ke wilayah-wilayah,
kini giliran Asia Tenggara yang siap disinggahi dan disebari dakwah syia’ar
Islam (Badri Yatim: 2007,176). Asia Tenggara merupakan tempat Islam baru mulai
berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, dan
Asia Tenggara mejadi wilayah perebutan negara-negara Eropa.
Kekuatan Eropa lebih awal menginjakan kaki dan
mengibarkan kejayaan di negeri melayu ini, hal ini karena Kerajaan Islam di
Asia Tenggara lebih lemah dibanding dengan kerajaan Timur Tengah, sehingga amat
mudah untuk ditaklukan, hal ini tergambar dengan merajalelanya kaum bangsa
Eropa yang menancapkan tongkat penjajahan. Asia Tenggara merupakan salah satu
negeri Dunia Islam, adapun yang dimaksud dengan dunia Islam yakni negara-negara
atau bangsa yang persentase penduduk muslimnya lebih dari 50 % dari keseluruhan
jumlah penduduk.pertimbangan jumlah ini merupakan pertimbangan pertama dan
terpenting, disamping itu pula ada pertimbangan-pertimbangan lain, seperti
undang-undang negeri, atau kepala nagar negeri, pula kebudayaan negeri itu.
Akhir Abad ke-16 M, giliran Belanda, Inggris, Denmark,
dan Perancis yang datang ke Asia Tenggara. Belanda datang pada tahun 1595 M dan
segera dapat memonopoli perdagangan. Sebagaimana di India, di Asia Tenggara
kekuasaan poltik negara-negara Eropa itu berlanjut terus sampai pertengahan
abad ke-20 M, ketika negeri-negeri jajahan tersebut memerdekakan diri dari
kekusaan asing.
· Kondisi Perkembangan Islam Di Indonesia
Adapun perkembangan Islam di
Indonesia, dicerminkan dengan banyak kerajaan kerajaan-kerajaan Islam yang
berdiri. Adapun awal masuknya yakni lewat jalur perdagangan dan dakwah yang
dibawa dari timur tengah dan india lewat jalur Aceh.
Kondisinya bisa dikatakan lebih baik
dari negeri-negeri Melayu lainnya, seiring dengan banyaknya didirikan
kerajaan-kerajaan Islam, seiring pula datangnya para orang Eropa mencari
rempah-remapah, hingga akhirnya membentuk VOC. Indonesia yang menjadi tanah
tropis dengan jalur garis katulistiwa yang nian indah dan subur, ternyata
mengundang minat dan perhatian perdagangan dunia termasuk Eropa.
Eropa masuk lewat portugis dengan
tujuan awal untuk berdagang namun setelah lama tujuan mereka beralih untuk
mengeruk kekayaan alam Nusantara. Disamping itu merekan pun menyebarakan pula
agama Nasrani, hingga tersebarlah di Indonesia berbagai agama yakni Islam yang
dibawa oleh timur tengah, Nasrani oleh Portugis, dan Hindu Budha yang pertama
kali menginjakan kaki penyebarannya di Indonesia oleh India.
Sebelum Islam datang ke Indonesia
sebelumnya telah lebih dahulu hadir, dan penyebaran yang dilakuakn yakni oleh
orang India yang membawa dakawah agama Hindhu Budha. Maka sebenarnya, kerajaan
yang berdiri pertama kali banyak dari kalangan basic Hindu Budha, namun setelah
orang-orang Arab menginjaka kaki pertama kali di Nusantara dan sembari membawa
syi’ar dakwah Islam, maka seiring itu bedirilah kerajaan-kerajaan Islam
menyusul kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang telah lama berdiri.
· Kondisi
Perkembangan Islam Di Malaysi
Portugis
mulai menjalin hubungan denagn Malaka lewat kedok ekonomi dan perdagangan, dan
melalui kemenangan mereka dalam perang Dewa (915 H/ 1509 M). Mereka kemudian
menguasai Malaka pada tahun 917 H/ 1511 M. Mereka telah berlaku sewenang-wenag
di wilayah ini, pada tahun 1051 H/1641 M penjajahan ini terhenti, lalu
dimulailah penjajahn Belanda.
Belanda
mengawali aktifitasnya denagn mendirikan perserikatan dagang Hindia-Belanda.
Melalui perserikatan ini Inggris memperoleh pasar dari Belanda, hingga akhirnya
Belanda menghapuskan perserikatannya pada tahun 1215 H/ 1800 M. Kekuasaan
Belanda di wilayah ini berakhir sejak tahun 1201 H/ 1795 M. Kemudian lewat
perjanjian kesepakatan diantara mereka, diserahkanlah Melayu kepada Inggris,
sedangakan Belanda mendapatkan kepulauan Indonesia. Setelah itu munculah revolusi
didalam negeri menentang penjajahan ini. Pada pertengahan perang Dunia II,
Jepang menguasai Melayu, setelah berakhirnya perang, Inggris kembali menjajah
wilayah ini. Mereka tetap berkuasa hingga negeri ini memerdekakan diri pada
tahun 1377 H/ 1957 M dengan nama Malysia.
Islam
pada saat ini sulit untuk disebarakn, terlebih negeri ini sedang terguncang
oleh dunia Eropa. Namun denagn gesit para penyiar dan kerajaan0kerjaan yang
masih bertahan perlahan Islam tersebar dan berkembang di negeri ini, meskipun
pada kenyataannya kondisi perkembangan Islam di Malysia tidak sebesar
perkembangan di Indonesia.
3. Perkembangan dakwah islam di Indonesia pada masa orde baru dan
tantangannya.
Penjelasan: Di masa pemerintahan Soeharto, atau era Orde Baru,
secara logika politik, mestinya Partai Masyumi dan PSI yang jelas-jelas menjadi
lawan dari penguasa Orde Lama itu, sudah semestinya mendapatkan haknya untuk
direhabilitir. Apalagi jika melihat prinsip-prinsip Partai Masyumi, serta garis
kejuangan para pemimpin umat yang memimpin partai Islam terbesar itu, sangat
tegas menentang Komunis. Sementara, Pemerintahan Orde Baru yang hadir sesudah
itu, seiring dengan dengan dibubarkannya partai komunis. Pemerintahan Orde Baru
itu, juga disebut sebagai anti komunis. Maka semestinya, rehabilitasi partai
Masyumi untuk kembali hidup seperti di zaman Orde Baru, tidak ada alasan untuk
terhalangi.
Meskipun demikian, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan.
Ironisnya, para pemimpin Masyumi masih tetap disingkirkan. Berbagai intimidasi,
masih di arahkan kepada pemimpin umat Islam itu. Di antaranya, ketika terjadi
”Petisi 50”, yakni pernyataan keperihatinan oleh pemimpin umat kepada Presiden
Soeharto atas pidatonya di Pekanbaru, telah dijadikan sebagai alat rekayasa
pelumpuhan potensi politik umat Islam. Peristiwa politik itu, telah menumbuhkan
dalam tubuh umat bibit kekecewaan dan kekesalan.
Namun, di antara umat dan pemimpin masih sanggup bertahan, karena
masih tersisanya anti‑toxin di dalam urat nadi umat. Anti toxin itu adalah keyakinan
hidup, wawasan Iman dan Islam, cinta akan persatuan bangsa, dan setia kepada
Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta anti komunis, yang tidak pernah
kendor dalam hati umat Islam.Memang ada, sebaagian umat menghadapinya dengan
pengendapan secara pasif. Uzlah, sambil menunggu masa berubah. Ada pula
keyakinan, bahwa perubahan pasti datang. Hanya menunggu waktu ketika.
Optiomisme itu, sebenarnya telah menguatkan diri umat. Tumbuh disiplin dari
dalam, dan tidak hanya sekedar tumbuh paksa dari luar. Atau, bukan pula
disiplin, ibarat itik pulang petang, yang berbaris patuh teratur, di bawah
komando sebilah ranting. Disiplin paksaan seperti itu, telah pernah dicoba
diterapkan oleh Demokrasi Terpimpin. Dan paksaan-paksaan sedemikian itu, tidak
diterima oleh ruh umat.
Sepeninggal pemerintahan Presiden Soekarno, (sesudah tahun 1996),
perlawanan yang dihadapkan kepada umat Islam tetap berlaku, dan terencana
dengan apik oleh kelompok phobia Islam, dan kalangan salibiyah, serta kelompok
sekuler, yang juga tidak pernah senang kepada peranan pemimpin Islam, di
Republik ini. Kelompok-kelompok itu, telah ikut memanfaatkan. Berbagai semboyan
menyudutkan Islam, seperti extrem kanan, fundamentalis, hijau royo-royo, secara
sistematis ditampilkan. Kecemasan-kecemasan ini, juga tampak ketika sangat
berperannya ICMI, ataupun Dewan Da’wah, dan ormas Islam lainnya, di dalam
pemerintahan. Kadangkala, Dewan Da’wah dan ICMI, dianggap wadah kebangkitan
serta pusat kekuatan umat Islam baru, di Republik Indonesia. Penilaian seperti
ini, salah satu bukti paling nyata, adanya kelompok phobia Islam di negeri ini.
Karakteristik ajaran Islam yang multidimensional sebagai ajaran
hidup Ilahiyah, dalam perjalanan sejarah umat Islam, sampai saat ini melahirkan
pandangan terhadap Islam yang multi interpretasi baik yang menyangkut aspek
aqidah/tauhid, syari’at maupun akhlaq/tassawuf terlebih lagi dalam kajian
sejarah Islam banyak sekali interpretasi terhadapnya. Multi interpretasi
terhadap ajaran Islam tidak hanya pada tataran furu’iyah (cabang) tetapi juga
masuk pada tataran Ushul (pokok). Interpretasi yang seharusnya menjadi rahmat
yang membawa berkah bagi kehidupan kaum muslimin khususnya dan kehidupan
manusia di dunia secara umum, karena watak ajaran Islam yang Rahmatan lil
‘Alamin. Tetapi kenyataan interpretasi terhadap ajaran Islam membuahkan
perpecahan tafarruk di kalangan kaum muslimin bahkan menjadi musibah bagi
sebagian golongan mustad’afin-yang tertindas.
Jika pada masa Rasululloh SAW terdapat ”unity of command” kesatuan
komando dalam mengejewantahkan ajaran Islam pada segala bentuk dan aspek
kehidupan yang menyangkut diri, keluarga, masyarakat dan negara, sehingga Islam
bisa mempersatukan umat manusia di dunia dalam kesatuan keyakinan, kesatuan
masyarakat/ummat dan kesatuan negara sampai kesatuan khilafah.
Maka perjalanan sejarah umat Islam selanjutnya diwarnai oleh
noda-noda pertikaian, embrio perpecahan dan cikal bakal pertentangan yang
menjadi bom waktu ketika kesatuan komando Kekhilafahan Islam telah hapus
tertelan kedzoliman dan keserakahan para musuh-musuh Allah, musuh Rosul dan
musuh orang-orang beriman.
Tidak adanya kesatuan komando/kepemimpinan secara integralistik
antara aspek kepemimpinan politis/negara/khilafah, aspek kepemimpinan
intelektual dan aspek kepemimpinan spiritual seperti yang diperankan oleh
Rosulullah saw, menyebabkan ajaran Islam dan umat Islam mengalami tafarruk
multidimensional.
Sudah lama umat Islam telah mencanangkan abad 15 H sebagai abad
kebangkitan Islam, saat para Hamba Allah yang Sholeh tampil sebagai aktor yang
memimpin bumi sebagai Khalifah, saat Islam terbebas dari berbagai fitnah, saat
keadilan Allah tegak di muka bumi. Daya upaya untuk membentuk “wihdatul ummah”–
kesatuan ummat Islam hanya bisa ditempuh dengan satu jalan yaitu DAKWAH.
Dakwah adalah pijakan perjuangan yang dilakukan oleh para Rosul-
Utusan Allah untuk menata kehidupan manusia sesuai dengan kehendak Al-Khaliq.
Dakwah itupulalah yang wajib dijadikan pijakan oleh para pelanjut, penerus dan
pembela Rosululloh saw yang mencita-citakan Baldah Thoyyibah wa Robbun Ghofur.
Tantangan dakwah ditengah keadaan Islam dan umat Islam yang
mengalami Tafarruk Multidimensional tidaklah sesederhana seperti pengertian dan
filosofis dakwah secara teoritis dan bersifat linier dai-mad’u dalam suatu
proses komunikasi timbal balik, tetapi tututannya adalah diantaranya adanya
kemampuan dalam memahami peta wilayah dakwah.
Indonesia dalam struktur geopolitis mesti dipahami oleh pelaku
dakwah yang mencita-citakan tanah tumpah kelahirannya mendapatkan ampunan,
rahmat, karunia dan berkah dari Allah SWT. Terlebih lagi dimasa krisis
multidimensional sekarang ini telah pantas dan layak umat Islam menunjukan
peran untuk menjadikan ajaran Islam sebagai solusi alternatif satu-satunya yang
mampu memperbaiki tata kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.
Ajaran Islam yang integralistik menyangkut pula aspek sosio politik
memberikan konsekuensi logis akan bersinggungannya antara kepentingan gerakan
dakwah dengan kepentingan negara sebagai institusi politik. Ada akar historis
yang bisa kita cari pelajaran sejarahnya –Ibrah tentang relasi-hubungan gerakan
dakwah dengan kehidupan negara meskipun potret hubungannya seperti benang kusut
yang perlu di urut dan diurai dengan baik dan benar.
Tantangan Tantangannya
·
Mutu Dakwah
yang didalamnya tercakup persoalan penyempurnaan sistem perlengkapan peralatan,
peningkatan teknik komunikasi, lebih – lebih lagi sangat dirasakan perlunya
dalam usaha menghadapi tantangan (konfrontasi) dari bermacam-macam usaha yang
sekarang giat dilancarkan oleh penganut agama-agama lain dan
kepercayaan-kepercayaan (antara lain faham anti tuhan yang masih merayap di
bawah tanah), katolik, protestan, hindu, budha, dan sebagainya terhadap
masyarakat islam.
· Planning dan
Integritasi yang
didalamnya tercakup persoalan-persoalan yang diawali oleh peneliti (research)
dan disusul oleh pengitegrasian segala unsur dan badan-badan dakwah yang telah
ada dalam masyarakat ke dalam suatu kerja sama yang baik dan berencana.
Dalam menampung masalah-masalah tersebut, yang mengandung cakupan yang
cukup luas dan sifat yang cukup kompleks, maka musyawarah alim ulama itu
memandang perlu membentuk suatu wadah yang kemudian dijelmakan dalam sebuah
yayasan yang diberi nama dewan dakwah islamiyah indonesia disingkat dewan
dakwah. pengurus pusat yayasan ini berkedudukan di ibu kota negara, dan
dimungkinkan memiliki perwakilan dikota daerah tingkat I serta pembantu
perwakilan di tiap-tiap daerah tingkat II seluruh indonesia.
Dimana perlu dan dalam keadaan mengizinkan, dewan dakwah dapat
tampil mengisi kekosongan, antara lain menciptakan suatu usaha berbentuk atau
bersifat dakwah, usaha mana sebelumnya belum pernah diadakan, seperti
emngadakan pilot projek dalam bidang dakwah.
4. Proses islamisasi di Cina, secara historis, dan tokoh awal
penyebar Islam di Cina
Islam adalah
agama universal, yang bisa diterima oleh semua golongan; suku, bangsa, dan adat
istiadat. Karena itu, Islam cepat diterima masyarakat karena prinsip toleran
(tasammuh), moderat (tawasuth), berkeadilan, dan seimbang (tawazzun). Hal ini pun
terjadi pula pada masyarakat Cina. Negeri dengan penduduknya kini lebih dari
satu miliar ini, menerima Islam dengan sambutan hangat.
Sejarah
mencatat, Islam masuk ke Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), yang dibawa
oleh salah seorang panglima Muslim, Saad bin Abi Waqqash RA, di masa Khalifah
Utsman bin Affan RA. Menurut Chen Yuen, dalam karyanya, A Brief Study of the
Introduction of Islam to China, masuknya Islam ke Cina sekitar tahun 30 H atau
sekitar 651 M.
Ketika itu,
Cina diperintah oleh Kaisar Yong Hui (ada pula yang menyebut nama Yung Wei).
Data masuknya Islam ke Cina ini dipertegas lagi oleh Ibrahim Tien Ying Ma dalam
bukunya, Muslims in China (Perkembangan Islam di Tiongkok). Buku ini secara
lengkap mengupas sejarah perkembangan Islam di Cina sejak awal masuk hingga
tahun 1980-an.
Sebelumnya,
banyak hikayat yang berkembang mengenai masuknya Islam ke Negeri Tirai Bambu
ini. Namun, semua hikayat itu menceritakan adanya tokoh utama di balik
penyebaran agama Islam di Cina.
Versi pertama
menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa sahabat Rasulullah
SAW yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethiopia). Sahabat Nabi hijrah ke
Ethiopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraisy jahiliyah.
Mereka antara lain Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Utsman bin Affan, suami
Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqash dan sejumlah sahabat lainnya.
Para sahabat
yang hijrah ke Ethiopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di
Kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab.
Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat
Dinasti Sui berkuasa (581-618 M).
Sumber lainnya
menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Saad bin Abi Waqqash
dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethiopia pada 616 M. Setelah sampai
di Cina, Saad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou
membawa Kitab Suci Alquran.
Ada pula yang
menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M--kurang lebih 20
tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang
menugaskan Saad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan Cina.
Konon, Saad meninggal dunia di Cina pada 635 M. Kuburannya dikenal sebagai
Geys' Mazars. Menurut Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya, Muslims in China,
versi terakhir ini yang lebih valid.
Utusan Khalifah
Utsman itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang.
Kaisar Yong Hui menghargai ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam punya
kesamaan dengan ajaran Konfusionisme. Untuk menunjukkan kekagumannya terhadap
Islam, kaisar mengizinkan berdirinya masjid pertama di Chang-an (Kanton).
Masjid itu bernama Huaisheng atau Masjid Memorial.
Menurut versi
Ibrahim Tien Ying Ma, masjid itu diberi nama Kwang Tah Se, yang berarti menara
Cemerlang, dan dibangun oleh Yusuf. Sedangkan, masjid lainnya yang dibangun di
sini adalah Chee Lin Se, yang berarti masjid dengan tanduk satu. Kedua masjid
itu masih tetap berdiri hingga saat ini setelah 14 abad.
Ketika Dinasti
Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan
budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat
Tiongkok.
5. Corak dan pola dakwah islam pada priode Dinasti Fathimiyah
Kemunculan
dinasti Fatimiyah tidak terlepas dari gerakan-gerakan militan dan frontal yang
dilakukan oleh Syi’ah Ismailiyah yang dipimpin oleh Abdullah ibn Syi’i. Pada
tahun 909, gerakan tersebut berhasil mendirikan dinasti Fatimiyah di Tunisia
(Afrika Utara) dibawah pimpinan Sa’id ibn al-Husain setelah mengalahkan dinasti
Aghlabiah. Dinasti Fatimiyah merasakan tiga ibu kota yaitu: Raqadah, al-Mahdiyah dan Kairo dibawah 14 khalifah
selama 262 tahun yaitu sejak tahun 909 hingga 1171.
Sistem politik
pada Dinasti Fatimiyah menganut doktrin keimaman Syi’ah yaitu jabatan Imamah (Khilafah di kalangan Sunni)
merupakan hak Ahl al-Bait yakni keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, yang
dalam hal ini Dinasti Fatimiyah berasal dari Ismail, putera Imam keenam Ja’far
as Shadiq.
Pemerintahan
Fatimiyah ini dapat dimasukkan ke dalam model pemerintahan yang bersifat
keagamaan, yaitu agama dijadikan sebagai motivasi kebangkitan melawan rezim
yang mapan.Selanjutnya simbol-simbol keagamaan (Syi’ah), khususnya yang terkait
dengan keluarga Ali, sangat ditonjolkan dalam mengurus pemerintahan. Terbukti
pada tahun 379 M, semua jabatan di berbagai bidang politik, agama, dan militer diduduki oleh Syi’ah. Oleh karena itu,
sebagian pejabat Fatimiah yang Suni beralih ke Syi’ah supaya jabatannya
meningkat.
Masa keemasan
dinasti Fatimiyah dimulai sejak pindahnya pemerintahan ke Kairo Mesir pada masa
Abu Tamim Ma’add al-Mu’iz li-Din Allah (952 M – 975) M dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan
Abu al-Manshur Nizar al-Aziz (975-996). Kejayaan itu dapat dilihat dalam bidang
agama dengan toleransi yang tinggi, pendidikan dengan pembangunan universitas
dan perpustakaan, , militer dengan pasukan bayaran, ekonomi dengan
infrastruktur, aturan yang adil dan menjadi jalur internasional, kebudayaan dan
peradaban dengan kota Kairo sebagai bukti, arsitektur dengan masjid al-Azhar
dan kesenian dengan produk tekstil, tenunan, keramik dan penjilidan.
Kemunduran
dinasti Fatimiyah dimulai dari masa pemerintahan al-Hakim yang bertindak kejam dan sewenang-wenang, dan
terus merosot pasca pemerintahan al-Zhahir dan berakhir pada masa al-Adid.
Kemunduran itu karena faktor eksternal berupa rongrongan dari penguasa luar dan
pertikaian internal. Juga usia khalifah
yang sangat belia mulai al-Hakim hingga khalifah terakhir.
6.Sejarah dan
karakeristik dakwah Islam masa kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire)
Penjelasan: Bangsa Turki tercatat dalam sejarah atas keberhasilannya mendirikan
dua Dinasti, yaitu Dinasti Turki Saljuk dan Turki Usmani. Kehancuran Dinasti
Turki Saljuk oleh serangan bangsa Mongol merupakan awal dari terbentuknya
Dinasti Turki Usmani.
Anatolia sebelum masa orang-orang utsmaniyah
Negeri Anatolia
(asia kecil) dahulu sebelum islam merupakan kerajaan yang berada dibawah
kekuasaan Byzantium (romawi timmur). Penaklukan-penaklukan oleh pasukan islam
sampai di sebagian wilayah timur negeri ini, dari ujung Armenia hingga ke
puncak gunung thurus sejak tahun 50 H, pada masa kekhalifahan
muawiyah , kam muslim belum mampu menaklukkan konstanttinopel, walaupun telah
dilakukan berulang kali usaha penyerangan.
Setelah perang
maladzikr pada tahun 463 H yang dimenagkan oleh orang-orang saljuk dengan
kemenangan yang gemilang aas romawi, pengaruh kemenangan ini terus meluas ke
negeri Anatolia. Mereka saat itu telah memiliki pemerintahan yang terkemuka
yaitu pemerintahan romawi saljuk.
Anatolia
kemudian jau ke tangan Mongolia, setelah merebutnya dari saljuk romawi . maka
terjadilah peperangan antara Mongolia dank am muslimin dan ini terjadi pada
tahun 641 H. setelah kekalahan Mongolia pada perang ain jalut, tahun 658 H
berangkatlah Zharir Bibris ke saljuk Romawi dan Mongolia, menyusul kekalahan
besar ini sebagai pelajaran besar ini. Bersamaan dengan lemahnya Mongolia ,
pemerintahan utsmaniyah lalu menguasainya pada masa yang berbeda.
Orang-orang
Utsmaniyah bernasab pada kabilah qobi yang berasal dari kabilah Ghizz
Turkmaniyah yang beragama islam dari negeri Turkistan.Tatkala terjadi
penyerbuan mongolia atas negeri itu, kakek mereka (sulaiman) berhijrah ke
negeri romawi, lalu ke syam dab ke irak. Dan mereka tenggelam di sungai Eufrat.
Kabilah ini lalu terpecah-pecah. Satu kelompok lalu kembali ke negeri asalnya.
Dan satu kelompoknya bersama dengan Erthoghul bin sulaiman.
Nama Kerajaan
Usmani diambil dari nama putra Erthogrul. Ia mempunyai seorang putra yang
bernama Usman yang lahir pada tahun 1258. Nama Usman inilah yang kemudian lahir
istilah Kerajaan Turki Usmani atau Kerajaan Usmani. Pendiri Kerajaan ini adalah
bangsa Turki dari Kabila Oghus. Yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara
Negeri Cina, kemudian pindah ke Turkistan, lalu ke Persia dan Iraq sekitar abad
ke-9 dan 10.
Pada abad ke-13
M, Erthoghul pergi ke Anatolia. Wilayah itu berada dibawah kekuasaan Sultan
Alaudin II (Salajikoh Alaudin Kaiqobad). Erthoghul membantunya melawan serangan
dari Byzantium. Ertoghul menang dan mendapatkan sebagian wilayah (Asyki Syahr)
dari Alaudin dari Byzantium dan sebagian hartanyamereka melarikan diri ke
wilayah Barat sebagai akibat dari serangan Mongol. mereka mencari tempat
perlindungan dari Turki Saljuk di daratan Tinggi Asia Kecil. Di bawah pimpinan
Ertugrul, mereka mengabdikan diri pada Sultan Alauddin II, Sultan Saljuk yang
berperang melawan Bizantium. Atas jasa baiknya, Sultan Alauddin menghadiahkan
sebidang tanah di Asia Kecil, yang berbatasan dengan Bizantium dan memilih
Syukud sebagai Ibu kotanya.
Ertugrul
meninggal dunia pada tahun 1289 M. kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya
yang bernama Usman (1281-1324), atas persetujuan Alauddin. Pada tahun 1300,
bangsa Mongol Menyerang Kerajaan Saljuk, dan Dinasti ini terpecah-pecah dalam
beberapa Dinasti kecil. Dalam kondisi kehancuran Saljuk inilah, Usman mengklaim
Kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang didudukinya, sekaligus
memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki Usmani. Dengan demikian, secara tidak
langsung mereka mengakui Usman sebagai penguasa tertinggi dengan gelar
“Padinsyah Ali Usman”.
Setelah Usman
mengakui dirinya sebagai Raja Besar Keluarga Usman pada tahun 699 H/1300 M,
secara bertahap ia memperluas wilayahnya. Penyerangan awal dilakukan di sekitar
daerah perbatasan Bizantium dan Brussa (Broessa) dijadikan salah satu daerah
yang menjadi objek taklukan. Pada tahun 1317 M. wilayah tersebut dapat
dikuasainya dan dijadikan sebagai ibu kota pada tahun 1326 M.
Diakhir
kehidupannya Usman menunjuk Orchan (42) anak yang lebih muda dari kedua orang
putranya sebagai calon pengganti memimpin kerajaan. Keputusan tersebut
disandarkan pada pertimbangan kemampuan dan bakat anaknya masing-masing. Orchan sebagai prajurit yang
potensial telah mendapat pengawasan dari ayahnya dan telah menunjukkan
kemampuannya dalam konteks militer pada penaklukkan Brossa. Sementara Alauddin
(kakaknya) lebih potensial dalam bidang agama dan hukum. Meskipun mereka sama-sama dibina dan dididik
oleh ayahnya. Sasaran Orchan setelah penobatannya menjadi raja ialah
penaklukkan kota Yunani seperti Nicea dan Nicomania. Nicea menyerah pada tahun
1327 dan Nocomedia takluk pada tahun 1338 M.
7. Dakwah Islam pada era reformasi dan teknologi modern
Ketika era
Reformasi melahirkan banyak partai-partai, maka banyak juga tampil
partai-partai, yang berani menyatakan prinsip berasas Islam. Kehadiran
partai-partai itu, masih tetap dilihat sebagai bahaya. Aliran politik Islam
tetap dicurigai. Ada kecemasan tersendiri. Hal ini telah terjadi, mungkin dikarenakan
politisi nasionalis yang bernafas dalam keterikatan dengan paham liberalisme
ala barat, dan berdalih demokratisasi. Banyak pula yang mulai menghembus nafas
dalam slogan Islam Yes, Partai Islam No.
Ketika pimpinan
umat dalam Majlis Ulama Indonesia (MUI), dan Dewan Da’wah, menyerukan kepada
umat Islam di Indonesia, untuk tetap memilih calon-calon legislatif yang
seaqidah iman atau beragama Islam, maka seruan itu, dinilai tidak proporsional.
Seruan pemimpin umat Islam dianggap sangat meresahkan. Bahkan, dinilai
membahayakan, bagi kelangsungan kehidupan bernasional. Sangat aneh yang
terjadi, perkembangan politik umat Islam sangat lemah, di negeri yang jumlah
umat Islamnya terbilang banyak. Perjuangan untuk memperoleh kekuasaan, adalah
fenomena politik yang paling menonjol dalam masyarakat.
Porsi kekuasaan
yang diperoleh setiap kekuatan sosial masyarakat berujung pada menerjemahkan
cita‑citanya menjadi kenyataan konkrit. Setiap kelompok sosial politik,
lewat kekuasaan yang diperoleh, selalu berusaha melakukan alokasi otoritatif
nilai‑nilai yang diyakininya. Demikianlah yang telah terjadi, sejak tahun
1960, tahun 1966, dan tahun 1998.
Demokratisasi
yang dibungkus oleh stabilitas keamanan, sangat sering dijadikan penekan, untuk
tujuan melemahkan peranan politik umat Islam, sejak dari masa Demokrasi
Terpimpin.
Akibat langsung
yang tampak dan dirasakan adalah, banyak pemimpin umat yang menduduki pucuk
pimpinan di partai Islam ditahan dan dipenjarakan. Mohamad Natsir dan
Boerhanoeddin Harahap berada dalam tahanan politik dari tahun 1961 hingga 1967.
Bapak Prawoto Mangkusasmito, Mohammad Roem, M.Yunan Nasution, E.Z. Muttaqin dan
KH Isa Anshary, ditahan pula di Madiun pada tahun 1962. Demikian juga Ghazali
Sjahlan, Jusuf Wibisono, Mr. Kasman Singodimejo di Sukabumi. Penangkapan dan
penahanan terhadap S. Soemarsono, A. Mukti, Djanamar Adjam, KH.M. Syaaf dan
lain. Kebanyakan pemimpin bekas partai Masyumi. Pemimpin kecil di daerah-daerah
juga ikut merasakan tekanan-tekanan, setidak-tidaknya dikucilkan. Suatu dinamika
perjalanan sejarah politik di Indonesia.
Kemudian,
banyak pula partai-partai yang telah membubarkan diri, karena berseberangan
dengan kebijaksanaan pemerintah Presiden Soekarno. Namun, tetap dianggap
berlawanan dengan Pemerintah Orde Baru.
Partai Islam sangat
menentang komunisme, tetapi masih tetap disebut, tidak sejalan dengan Orde
Baru. Padahal, perjalanan sejarah pemerintahan Orde Baru, dimulai dengan
menghapus semua paham politik komunis di Indonesia. Tetapi, gelar yang dicapkan
dengan “kontra revolusi”, atau bekas “partai yang dilarang”, masih terus
berjalan, hingga puluhan tahun kemudian. Walaupun zaman telah berganti, namun
kekuatan umat Islam tetap didorong kepinggiran arena percaturan politik
berbangsa.
Berkaitan
dengan hal tersebut di atas, timbul beberapa pertanyaan, di antaranya, apakah
rasa nasionalisme Natsir dan kawan-kawan, yang pernah memimpin Partai Politik
Islam Masyumi itu, masih diragukan ?.
Padahal,
Mohamad Natsir menilai, nasionalisme adalah fithrah manusia mencintai tanah air
yang diyakini sebagai anugerah (rahmat) Allah. Agama Islam mengajarkan agar
umatnya menjaga tanah airnya sebagai suatu suruhan Agama Islam. Nasionalisme
menurut Natsir, harus mendapatkan nafas keagamaan agar tidak menimbulkan
perasaan ta’ashub dan chauvinisme. Karena itu, sejak usia mudanya, Natsir
selalu terlibat di dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mohamad Natsir
menerima pandangan dalam perjuangan, bahwa pembentukan sebuah negara bangsa
(nation-state) adalah suatu keharusan. Negara Bangsa, adalah sebuah alat yang
perlu untuk merealisasikan ajaran-ajaran Islam kedalam situasi konkrit.Mohamad
Natsir menganut keyakinan bahwa politik harus ditundukkan kepada etika yang
tinggi. Dengan cara itu, keinginan untuk berkuasa sendiri, tidak sesuai
dengannya, dan paham menghalalkan segala cara, harus dihindari jauh-jauh.
Salah paham
terhadap Masyumi selalu saja ada. Namun, bila diteliti tujuan Masyumi di dalam
anggaran dasarnya, tertera jelas adalah untuk memperjuangkan terlaksananya
ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara
Republik Indonesia, dalam menuju keridhaan Allah. Dalam pandangan politik-nya,
Masyumi sangat konsekwen menentang komunisme dalam segala bentuk.
Pemaksaan
kehendak kepada rakyat kecil, telah men-jauhkan masyarakat dari pemerintahnya.
Pancasila seakan hanya dijadikan sebagai mantel. Pancasila tidak lagi menjadi
falsafah hidup dalam kehidupan berbangsa. Ironis sekali yang terjadi.
Organisasi agama juga tidak boleh berazaskan agamanya. Dalam proses sosial
secara tidak sadar telah memasuki full‑grown
sekularisme.
Tanpa terasa
dominasi golongan minoritas mulai mengganggu rasa keadilan masyarakat luas.
Muncul usaha de-Islamisasi.
Karena itu, era
reformasi yang bergulir sesudahnya, di tahun 1998, sungguh menjadi harapan baru
bagi rakyat Indonesia, menuju perubahan. Tetapi, ternyata reformasi belum lagi
menyentuh hal-hal yang substasi dalam membangun kehidupan bernegara.
Kelihatannya, reformasi baru pada tatanan bungkus saja. Esensi kekuasaan masih
bertahan pada kelompok yang mengandalkan kekuatan politik yang besar.
Belakangan, kekuasaan berpindah ke tangan yang menguasai sumber keuangan yang
melimpah. Demokrasi jadi semacam komoditi yang diperjual-belikan. Masih terasa
jauh dari kebenaran dan keadilan. Sementara, kekuatan umat Islam, masih
dianggap mencemaskan.
C. Teknologi Modern
Pada
tahun-tahun sebelum masehi, kemajuan proses komunikasi dimulai pada saat
ditemukannya seperangkat lambang dan simbol-simbol yang dapat dipahami maknanya
secara luas. Perkembangan selanjutnya adalah ditemukannya sejumlah sarana untuk
menulis maupun menggambarkan lambang dan simbol-simbol tersebut. Meskipun pada
akhirnya aksara atau huruf ditemukan, namun lambang dan simbol-simbol berupa
gambar-gambar lebih dulu ditentukan sebagai pengganti suara dalam
berkomunikasi.
Sedangkan untuk
periode modern, meskipun mesin cetak ditemukan di Cina pada abad ke-10, namun
teknologi komunikasi baru dinyatakan berkembang pada tahun 1440, tahun di mana
mesin cetak yang lebih efisien ditemukan oleh Johannes Gutenberg mencetak Bibel
untuk pertama kali, moment ini dianggap sebagai revolusi kedua di bidang
komunikasi.
Film dimasukkan
ke dalam kelompok komunikasi massa. Selain mengandung aspek hiburan dan
informasi, juga memuat pesan edukatif. Namun aspek sosial kontrolnya tidak
sekuat pada surat kabar atau televisi yang memang menyiarkan berita berdasarkan
fakta. Fakta dalam film ditampilkan secara abstrak, tema cerita bertitik tolak
dari fenomena yang terjadi di tengah masyarakat dan dalam film, cerita dibuat secara imajinatif.
Film sebagai alat komunikasi massa baru dimulai pada tahun 1901, ketika
Ferdinand Zecca membuat film “The Story of Crime” di Perancis dan Edwar S.
Porter membuat film “The Life of an American Fireman” tahun 1992.
Film suara baru
ditemukan pada tahun 1927. Dari masa ke masa, film mengalami perkembangan,
termasuk soal warna yang semula hitam putih sekarang sudah berwarna. Namun,
film tidak disebut sebagai komunikasi atau media massa, karena media massa
lebih berkonotasi kepada media yang memuat berita yang digarap oleh para
reporter atau wartawan. Film lebih banyak difahami sebagai media hiburan semata
yang diputar di bioskop dan televisi.[1]
Televisi mulai
dapat dinikmati oleh publik Amerika Serikat (AS) pada tahun 1939, yaitu ketika
berlangsungnya “World’s Fair” di New York, namun sempat terhenti ketika terjadi
Perang Dunia II. Sekarang , sudah sekitar 750 stasiun televisi terdapat di
negara Paman Sam itu. Tak heran, bila televisi akhirnya menjadi kebutuhan hidup
sehari-hari di seluruh penjuru AS dan merupakan kekuatan yang luar biasa dalam
komunikasi massa. Lebih dari 75 juta pesawat televisi digunakan secara
tetap.[2]
Pada tahun
1946, televisi dinikmati sebagai media massa ketika khalayak dapat menonton
siaran Rapat Dewan Keamanan PBB di New York. Dewasa ini, setiap negara telah
mempunyai pemancar televisi. Bahkan melalui parabola yang terhubung dengan
satelit, pemirsa dapat menikmati siaran dari luar negaranya seperti yang
terjadi di Indonesia. Dengan demikian arus berita dan informasi lewat televisi
semakin beragam.
Namun demikian,
penyiaran televisi ke rumah pertama dilakukan pada tahun 1928 secara terbatas
ke rumah tiga orang eksekutif General Electric, menggunakan alat yang
sederhana. Sedangkan penyiaran televise secara elektrik pertama kali dilakukan
pada tahun 1936 oleh British Broadcasting Coorporation. Semetara di Jerman
penyiaran TV pertama kali terjadi pada tanggal 11 Mei 1939. Stasiun televisi
itu kemudian diberi nama Nipko, sebagai pengahargaan terhadap Paul Nikov.[3]
Televisi selain
menyajikan aspek hiburan, juga menyiarkan berita, yang ada antaranya bersifat
sosial kontrol. Karena itu, televisi sebagai media massa telah menjadi salah
satu kebutuhan masyarakat di rumah tangga masing-masing.
Sebagai media
massa yang muncul belakangan dibandingkan media cetak, televisi baru berperan
selama tiga puluh tahun. ‘Kotak ajaib’ ini sendiri lahir setelah adanya
beberapa penemuan tekhnologi, seperti telepon, telegraf, fotografi (yang
bergerak dan tidak bergerak) serta rekaman suara. Terlepas dari semua itu, pada
kenyataannya media televisi kini dapat dibahas secara mendalam, baik dari segi
isi pesan maupun penggunaannya.
Bangsa
Indonesia baru pada tahun 1962 mendirikan stasiun televise mlik Pemerintah
yaitu TVRI dalam rangka mensukseskan Asian Games 1963. Selanjutnya pada thun
1976 Bangsa Indonesia mengadakan lompatan dalam dunia komuniasi dengan
diluncurkannya satelit komunikasi dengan nama Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa, pada waktu
itu Indonesia adalah Negara kedua setelah Canada dan Negara pertama di Asia
yang memiliki satelit.
Komputer
pertama yang bernama Colossus 1, dibuat di Amerika Serikat pada awal tahun
1941. Perkembangan-perkembangan sebelumnya, yang merintis lahirnya komputer
modern adalah dimulai dari berkembangnya aljabar logik dari George Boole
(Inggris), yang dikembangkan oleh Charles Babbage yang menghasilkan kalkulator
manikal yang dinamakan ‘Differential Engine’.
Dari
perkembangan tersebutlah, lalu pada tahun 1937 seorang insyinyur Amerika,
Howard Aiken merancang IBM Mark 7, yang menjadi cikal-bakal dari komputer besar
masa kini, yang mengunakan tabung hampa udara dan memiliki tombol-tombol
elektromagnetik, bukan elektronik.
Komputer elektronik yang pertama yang telah dituliskan bernama Colossus
1, akhirnya dibuat oleh Alan Turing dan M.H.A Neuman, untuk pemerintah Britania
di universitas Manchester.[4]
Dari kemunculan
komputer inilah yang di kemudian hari terus berkemembang dan akhirnya lahirlah
internet sebagai media baru. Tahun 1972
merupakan awal kelahiran jaringan internet, yaitu dengan adanya proyek yang
menghubungkan antara jaringan komunikasi pada jaringan komputer ARPANET. Proyek
tersebut telah menetapkan sebuah metoda baru untuk menghubungkan berbagai macam
jaringan yang berbeda yang dikenal sebagai konsep gateway. Pada tahun
1973-1977, dikembangkan protokol TCP/IP (Transmission Control/Internetworking
Protocol). Protokol ini digunakan untuk pengiriman informasi yang dikenal
sebagai paket (packet).[5]
Internet baru
dimanfaatkan di Indonesia pada tahun 1996. Seseorang yang mempunyai pesawat
komputer dapat menyambungkannya dengan jaringan komputer lainnya lewat satelit
melalui provider. Perbedaannnya dengan teknologi komunikasi lainnya bahwa
internet bersifat individual.
8. Sejarah dan pengaruh dewan dakwah Islam Indonesia (DDII)
Penjelasan: Masa permulaan demokrasi terpimpin tahun 1957 mencatat
Masyumi bukan saja tambah renggang dan asing bagi Soekarno melainkan juga
tambah bertentangan secara konfrontatif dengan Presiden. Dengan Natsir sebagai
Ketua Umum Partai, garis kebijaksanaan politik Masyumi terhadap Soekarno tambah
keras, ia tidak dapat berkompromi dengan Soekarno dalam soal demokrasi.
Dalam mekanisme
pelaksanaan demokrasi terpimpin anggota-anggota yang duduk dalam Dewan DPRGR
(Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) adalah mereka yang disukai Soekarno,
dan bertugas mengiyakan Move politiknya. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa
orang-orang Masyumi dan PSI yang menentang politik Soekarno harus tersingkir.
Di mata Masyumi sistem demokrasi terpimpin akan membawa bencana bagi bangsa dan
negara. Semangat inilah sebagai idealisme martir Masyumi, yang mempunyai resiko
politik yang besar bagi golongan modernis Muslim di Indonesia. Masyumi sebagai
cagar demokrasi tampaknya tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi Soekarno
dan sistemnya.
Harapan Masyumi
bahwa rakyat akan berpihak kepada demokrasi, tidak kepada sistem otoriter,
ternyata sia-sia. Sementara itu, PKI yang sangat lihai dalam manipulasi
politik, berpihak sepenuhnya kepada sistem Soekarno. Pada masa Demokrasi
Terpimpin, jargon politik PKI tentang golongan “kepala batu” sudah menyatu
dengan jargon politik Soekarno yang juga menilai Masyumi sebagai kekuatan
“kepala batu” yang merintangi penyelesaian revolusi Indonesia. Karena itu,
Masyumi tidak patut lagi hidup pada era demokrasi terpimpin. Dengan demikian,
di antara prinsip demokrasi terpimpin sebagaimana dikemukakan oleh Soekarno
“tanpa otokrasi diktator” tidak berlaku bagi Masyumi. Masyumi harus dikorbankan
“demi revolusi”. Semua ini adalah kepandaian manuver PKI dengan bantuan penuh
dari Presiden Soekarno.
Akhirnya
pukulan terakhir dialami partai Masyumi yang gigih mempertahankan prinsipnya
ini. Pukul 05.20 pagi tanggal 17 Agustus 1960 hari Ulang Tahun Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia, Pimpinan Pusat Masyumi menerima surat dari Direktur
Kabinet Presiden yang mengemukakan bahwa Masyumi harus dibubarkan. Dalam waktu
30 hari setelah keputusan ini, yaitu 17 Agustus 1960. Pimpinan partai Masyumi
harus menyatakan partainya bubar, pembubaran ini harus diberitahukan kepada
Presiden secepatnya. Kalau tidak, partai Masyumi akan diumumkan sebagai partai
terlarang. Kurang dari sebulan demikian yaitu tanggal 13 September, pimpinan
pusat Masyumi menyatakan partainya bubar. Ini tidak berarti bahwa Masyumi menyetujui
instruksi Presiden.
Pembubaran
Partai Masyumi oleh Presiden Soekarno ternyata meninggalkan luka politik cukup
mendalam bagi masyarakat Indonesia, terutama kelompok yang mengembangkan
aspirasi Islam modernis, kata Remy Madinier, pengamat sejarah tentang RI dari
Perancis. “Dalam periode 1950-an, Partai Masyumi menunjukkan kegiatan
bercirikan Islam modern yang cukup terstruktur di tingkat parlemen maupun
kelompok massa. Dari sisi kedekatan pribadi Muhammad Natsir selaku pimpinan
Masyumi dengan Presiden Soekarno juga sangat baik, walaupun unik,” ujarnya
dalam percakapan dengan ANTARA di Pusat Kajian Asia di Paris, Jumat.
Hanya saja,
katanya, Partai Masyumi memainkan peran politik yang terlalu keras menghadapi
kekuatan kelompok komunis dan nasionalis di saat parlemen RI membahas
pembentukan Undang-Undang Dasar (UUD) di akhir tahun 1950-an. Madinier, yang
meneliti sejarah Partai Masyumi selama enam tahun terakhir ini menilai,
kedekatan pribadi Natsir dengan Soekarno malah menciptakan “benturan
kepentingan berpolitik”.
Konon setelah
berakhirnya periode Masyumi, Warga Bulan Bintang mengalami kevakuman politik
namun beberapa saksi mengutip dan menggarisbawahi pesan Mr. Mohammad Natsir
bahwa; Keluarga Besar Bulan Bintang harus bisa hidup, berkarya dan berjuang
dimana saja untuk kepentingan ummat, bangsa dan negara laksana cendawan yang
tumbuh di musim penghujan. Diskriminasi atas Masyumi pada masa rezim orde lama
berlanjut dengan kebijakan politik rezim orde baru yang menolak merehabilitasi
Partai Masyumi.
Menyikap hal
ini Keluarga Besar Bulan Bintang terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok
yang beralih ke gerakan dakwah dan mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia
(DDII) dengan M. Natsir, Muhammad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Anwar Haryono
dan Yunan Nasution sebagai tokoh sentralnya. Setelah dilarang untuk
beraktifitas dalam dunia politik, mereka melihat celah lain untuk berkiprah di
masyarakat, yakni dengan berdakwah.
Kedua, kelompok
yang tetap berada di wilayah politik dengan membentuk Par-musi (Partai Muslimin
Indonesia), sebuah partai yang sengaja didirikan sebagai pengganti Masyumi dan
direstui pemerintah Orde Baru.
Ketiga,
kelompok teknokrat yang lebih pragmatis. Mereka adalah bekas anggota dan
simpatisan Masyumi dan mendapatkan karirnya melalui Golkar atau organisasi
underbow-nya. Di luar ke-tiga kelompok ini, terdapat juga sekelompok kecil
anggota dan simpatisan Masyumi yang terlibat dalam gerakan DI/TII dan NII.
Komentar
Posting Komentar